Rahasia Sehatnya Orang Jepang

Berbicara tentang kesehatan, berat badan bukan segalanya, namun karena terdapat komplikasi yang ditimbulkan oleh kelebihan berat badan atau obesitas, bisa dikatakan Jepang yang memiliki tingkat obesitas 3,5% lebih sehat dibanding Amerika dengan tingkat obesitas 30%.

Jepang tidak sepenuhnya sempurna. Pada tahun 2012, Jepang masuk dalam daftar 50 teratas untuk penyakit kanker, namun masih berada di peringkat 48 sementara Amerika berada di peringkat 6.


Keterangan: Video telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

Saya membandingkan Jepang dengan Amerika karena saya pernah tinggal di kedua negara ini.

Saya berpendapat bahwa akses yang begitu mudah untuk mendapatkan makanan sehat di Jepang membantu membuat orang tetap ramping.

Tetapi apa lagi yang berkontribusi terhadap kesehatan? Dalam video terakhir saya, banyak yang berkomentar bahwa di Tokyo Anda kemana-mana berjalan kaki, dan itu memang benar. Seharusnya aktor ini membantu orang tetap sehat dan ramping. Juga, berjalan sambil makan umumnya lebih disukai karena lebih banyak berjalan berarti lebih sedikit ngemil.

Di sini transportasi publik sangatlah nyaman dan dapat diandalkan. Jika Anda berkeliling Tokyo, setiap tempat yang dituju dapat ditempuh dengan 20 menit berjalan kaki dari stasiun kereta api, kereta bawah tanah atau halte bus.

Tidak heran apabila Tokyo yang padat penduduk dan memiliki sistem transportasi umum yang terorganisir dengan baik mempunyai tingkat kepemilikan mobil terendah di Jepang.


Yang menarik adalah rata-rata indeks massa tubuh tidak berubah terlalu drastis dari prefektur ke prefektur, kepemilikan mobil yang lebih tinggi tidak terlalu berkorelasi dengan indeks massa tubuh yang lebih tinggi.

Konon, lebih banyak berjalan pasti membantu orang tetap lebih ramping dan sehat, tapi itu hanyalah satu bagian dari teka-teki yang lebih besar.

Selanjutnya, ukuran porsi makanan di Jepang memang lebih kecil. Seperti inilah beberapa contoh makan siang di Jepang. Ketika saya pertama kali tinggal di Jepang pada tahun 2010 saya ingat selalu agak kecewa dengan ukuran makanan.

Tentu saja disini juga terdapat tempat makan dengan porsi lebih besar dan all-you-can-eat. Namun karena harga makanan lebih mahal di sini, saya harus membiasakan makan lebih sedikit.

Pada tahun 2014, orang Jepang menghabiskan rata-rata sekitar 13,5% dari pendapatan mereka pada makanan, dua kali lebih besar dari orang di Amerika habiskan. Pada tahun 2013, 3682 kalori dikonsumsi per orang per hari di Amerika dan hanya 2726 kalori per hari di Jepang. Jadi orang Jepang biasanya menghabiskan lebih banyak uang untuk lebih sedikit kalori. 

Meski, kalori murah dari gula pada soda mungkin merupakan salah satu faktor, faktanya orang Amerika mengkonsumsi lebih dari 5 kali jumlah soda orang Jepang pada tahun 2011.

Selanjutnya, jenis makanan yang dimakan di sini tentu saja berbeda. Anda mungkin telah memperhatikan klip yang baru saja saya tunjukkan. Semua makanan disajikan dengan nasi. Diet Jepang tidak berarti diet rendah karbohidrat.

Tetapi sementara Jepang dan Amerika mengkonsumsi jumlah yang sama dari dua butir gandum dan beras dikombinasikan, Jepang memakan sekitar setengah gandum dibanding Amerika.

Tidak mengkonsumsi gandum atau gluten semula dianggap sambil lalu, tetapi gluten yang ditemukan pada gandum dan bukan beras, telah terbukti memiliki komposisi yang unik.

Studi pada tikus Brasil tahun 2012 menemukan bahwa dengan hanya menggunakan 4,5% gluten gandum dalam diet justru mampu meningkatkan lemak tubuh, peradangan dan resistensi pada insulin.

Penelitian oleh Dr Alessio Fasano dan timnya menunjukkan bahwa protein gliadin gluten, melalui stimulasi protein yang disebut Zonulin, membuka ruang di antara sel sel epitel di usus Anda. Hal ini membuat sebagian gliadin menembus melalui usus dan masuk ke dalam aliran darah, merangsang respon imun dan peradangan.

Namun, karena reaksi terhadap gluten berbeda pada setiap orang dan hal tersebut relatif baru dan rumit, sulit untuk mengukur secara kualitatif & kuantitatif, mana yang lebih buruk, gandum atau beras, dan seberapa banyak perbedaannya.

Selanjutnya adalah konsumsi reguler makanan fermentasi di Jepang. √Člie Metchnikoff, pemenang Nobel tahun 1908 dalam bidang Kedokteran, adalah yang pertama kali mencetuskan teori bakteri asam laktat bermanfaat untuk kesehatan manusia. Dia menyarankan bahwa "pemberian secara oral kultur bakteri yang telah di fermentasi akan menghasilkan bakteri menguntungkan pada saluran pencernaan."


Saat penelitian tentang mikrobioma usus berkembang, efek dari mikroba dan bakteri usus untuk kesehatan mulai terlihat nyata. Transplantasi mikroba dari wanita dengan kelebihan berat badan ke wanita lain menyebabkan wanita tersebut menjadi gemuk, dan sudah ditemukan bahwa transplantasi mikroba dari tikus yang percaya diri ke tikus yang cemas akan membuat tikus yang disebutkan terakhir lebih percaya diri.

Diperkirakan ada 500 hingga 1000 spesies bakteri di usus Anda saja, dan penting untuk menjaga spesies tertentu dari bakteri-bakteri ini. Bahkan ada penelitian yang menunjukkan mikroba tertentu bisa menghasilkan neurotransmiter tertentu.

Dan, makanan yang difermentasi seharusnya bisa menghasilkan mikroba yang ingin kita miliki. Banyak makanan fermentasi telah menjadi bagian dari diet a la Jepang untuk waktu yang sangat lama. Ada Natto, kecap, miso, ikan yang difermentasi dan tsukemono (acar sayur). Kimchi, makanan yang difermentasi secara tradisional yang berasal dari Korea, juga banyak tersedia di Jepang.

Makanan yang difermentasi seperti ini sangat mudah ditemukan di supermarket, dan merupakan hal yang umum untuk menemukan acar Jepang disajikan dengan makanan Anda.

Poin berikutnya adalah konsumsi daging yang seimbang. Pada tahun 2017, total konsumsi daging per kapita di Amerika adalah 98,4 kg dan hanya 51,4 kg daging per kapita dikonsumsi di Jepang.

Orang Amerika hanya mengkonsumsi 7 kg seafood tahun 2015, sementara orang Jepang mengkonsumsi 27,3 kilogram ikan dan produk ikan turunannya pada tahun 2014.

Jika daging yang dimakan semua orang berasal dari hewan yang memakan rumput yang bebas antibiotik maka mengkonsumsi daging dalam jumlah yang tinggi mungkin bukan hal yang buruk. Tetapi dalam kondisi apapun kita menyetujui bahwa asupan ikan yang lebih tinggi umumnya baik untuk Anda.

Dan saya rasa Anda tidak akan terkejut untuk mendengar bahwa sangat mudah untuk mendapatkan ikan di manapun anda berada di Jepang. 

Namun ada jenis lain dari keseimbangan yang bisa dijadikan penentu -yaitu rasio daging bidengan daging jeroan.

Daging jeroan biasanya tidak menjadi salah satu komponen diet a la Amerika. Selama Perang Dunia II, orang-orang dianjurkan untuk mengkonsumsi jeroan sebagai bagian dari upaya penjatahan makanan. Artikel pada majalah Time edisi tahun 1943 membahas tentang jeroan sebagai daging yang bergizi dan menjelaskan cara memasaknya. Upaya tersebut cukup berhasil dalam mengubah pandangan masyarakat terhadap daging jeroan, tetapi efeknya tidak tidak bertahan lebih lama daripada perang itu sendiri.

Ini sangat disayangkan karena, seperti yang telah majalah Time sebutkan, daging jeroan kaya akan vitamin tertentu sedangkan daging biasa tidak. Dan, glisin, asam amino yang ditemukan di kulit, tulang rawan dan jaringan ikat memiliki beberapa manfaat kesehatan yang penting -seperti anti-inflamasi, untuk meningkatkan elastisitas kulit, meningkatkan respon insulin, dan telah terbukti memperbaiki stres oksidatif dan menurunkan tekanan darah.

Studi ini menemukan bahwa tikus bisa mendapatkan peningkatan rentang hidup sebesar 30% dengan cara membatasi metionin, asam amino yang ditemukan di daging atau Anda juga bisa mendapatkannyan dengan cara menambah konsumsi glisin. Penambahan glisin juga mengurangi gula darah puasa, insulin puasa dan bahkan trigliserida. 

Jadi sepertinya potensi efek negatif dari konsumsi terlalu banyak daging dapat dinetralkan dengan hanya mengkonsumsi lebih banyak makanan seperti kulit, tulang rawan, jaringan ikat dan kaldu tulang. 

Sekarang di Amerika anda pasti bisa menemukan daging jeroan di beberapa supermarket, tetapi selama 20 tahun saya di tinggal di Amerika, daging jeroan jarang terdapat di menu, meskipun kulit ayam cukup mudah ditemukan.


Di Jepang, daging jeroan tidak dimakan setiap hari tentu saja, tetapi mereka lebih mudah untuk didapat. Anda dapat menemukannya di supermarket, atau di tempat-tempat barbeque dan tempat-tempat HorumonYaki yang mengkhususkan pada daging jeroan. Anda juga bisa mendapatkannya di kedai tusuk sate di Yakitori. Daging babi merupakan bagian utama dari masakan Okinawa dan mereka menggunakan setiap bagian dari hewan tersebut. 

Hal lain adalah konsumsi teh hijau. Teh hijau diketahui memiliki fungsi anti-inflamasi, antioksidan, anti kanker dan juga berfungsi menurunkan gula darah berkat kandungan katekin di dalamnya.

Walaupun saya yakin khasiat teh hijau untuk kesehatan bukan informasi baru untuk Anda. Namun perlu dicatat bawa alasan saya tidak menjadikan konsumsi teh hijau sebagai kebiasaan pada saat saya tinggal di Amerika adalah karena saya harus membelinya terlebih dahulu di supermarket, lalu pulang dan menyeduhnya, dan menurut saya itu menjengkelkan.

Di Jepang, hampir semua restoran menyajikannya, terkadang gratis, dan anda selalu dapat membelinya dari salah satu dari sekian banyak mesin penjual otomatis yang berada di seluruh negeri. 

Manfaat yang lebih besar yang bisa diperoleh dari secara teratur mengkonsumsi teh hijau dan teh lainnya adalah bahwa hal tersebut membuat orang untuk tidak minum soda. Di sini, saya jarang melihat orang-orang di sini minum soda setelah makan, tapi saya melihat orang-orang minum teh sepanjang waktu.

Satu hal terakhir adalah makanan yang disajikan untuk anak-anak. Di Jepang, makanan sekolah direncanakan oleh ahli gizi, kebanyakan dimasak dari awal memakai bahan lokal, lalu disajikan di ruang kelas oleh siswa. Pada saat bersamaan sopan santun pada saat makan diajarkan oleh para guru.

Satu-satunya minuman yang diperbolehkan adalah susu, jadi para siswa tidak bisa minum jus atau minuman manis lainnya. Makanannya tidak selalu sempurna, tetapi makanan tersebut jauh lebih baik daripada yang saya dapat di kafetaria di sekolah dasar di Amerika.

Ada banyak hal tentang Jepang yang belum saya sebutkan di sini, beberapa bahkan saya berharap akan menjadi penentu kesehatan seperti konsumsi makanan olahan, gula, jagung olahan, biji dan minyak kedelai.

Singkatnya, tampaknya orang-orang di Jepang lebih banyak mengkonusmsi makanan dari bahan asli daripada makanan buatan. 

Di Jepang, budaya makan telah berkontribusi banyak untuk kesehatan dan saya mengharapkan lebih banyak lagi yang bisa dipelajari dari melihat budaya makan di negara lain.

Transkrip dari What I've Learned. Terjemahan oleh Educazio. Image dari CNN.

Posting Komentar

0 Komentar