Mengapa Anda Harus Membaca Novel "Seratus Tahun Kesunyian"?

Suatu hari di tahun 1965, saat berkendara menuju Acapulco untuk berlibur bersama keluarganya, jurnalis Kolombia Gabriel García Márquez tiba-tiba memutar balik mobilnya, meminta istrinya untuk mengurus keuangan keluarga untuk bulan-bulan selanjutnya, dan kembali ke rumah.

Awal mula untuk karya barunya tiba-tiba muncul: "Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendía mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es."

Sekitar 18 bulan setelahnya, kata-kata itu berkembang menjadi Seratus Tahun Kesunyian. Sebuah novel yang akan membawa sastra Amerika Latin ke garis depan imajinasi global, mengantarkan García Márquez untuk meraih Penghargaan Nobel Kesusastraan tahun 1982.


Keterangan: Video ini telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

Apa yang membuat Seratus Tahun Kesunyian menjadi luar biasa?

Novel tersebut berkisah tentang keberuntungan dan kesialan dalam keluarga Buendía selama lebih dari tujuh generasi.

Dengan kalimat-kalimat yang kaya dan rinci, karakter yang berjumlah banyak, dan cerita yang rumit, Seratus Tahun Kesunyian bukanlah buku yang mudah dibaca. Tapi merupakan satu karya yang hebat dan dalam, dengan berbagai romansa yang bergelora, perang saudara, intrik politik, pengelana dunia, dan lebih banyak karakter bernama Aureliano dari yang dapat kau kira.

Meski begitu, karya ini tak sekadar drama sejarah Seratus Tahun Kesunyian adalah salah satu contoh terkenal dari aliran sastra yang disebut realisme magis.

Di sini, perihal dan kemampuan supernatural dijelaskan dalam gaya realis dan tidak berbelit-belit, sementara peristiwa nyata dan sejarah menampilkan dengan sendirinya akan kekayaan akan keabsurdan fantasi.

Fenomena surealis yang terjadi di desa fiksi Macondo terjalin apik dengan berbagai peristiwa nyata yang terjadi di Kolombia. Pemukiman bermula dengan kondisi mistis dalam masa pengisolasian, tetapi berangsur-angsur terekspos ke dunia luar, dan menghadapi berbagai malapetaka seiring waktu berjalan.

Dengan bergantinya tahun, berbagai karakter bertumbuh dan meninggal, dan kembali dalam bentuk roh, atau tampak bereinkarnasi pada generasi berikutnya.

Ketika perusahaan buah Amerika tiba, bersamaan dengan seorang mekanis romantis yang selalu diikuti kupu-kupu kuning. Seorang gadis muda bangkit dan melayang pergi.


Meski novel tersebut beralur maju dengan generasi yang baru, waktu dalam cerita bergerak dalam cara yang hampir berputar. Banyak karakter memiliki nama yang mirip dan sifat yang sama dengan leluhurnya, dengan kesalahan yang sama dan terulang.

Ramalan aneh dan kunjungan dari kaum gipsi misterius mengarah pada berbagai pertikaian dan regu tembak dari perang saudara yang berulang.

Sebuah pabrik buah Amerika membuka perkebunan di dekat desa dan berakhir dengan pembantaian ribuan pekerja yang mogok kerja, mencerminkan peristiwa nyata "Pembantaian Pisang" di tahun 1928.

Bercampur dengan unsur realisme magis pada novel hal tersebut menghasilkan unsur sejarah sebagai putaran menurun di mana para karakter terlihat tidak mampu pergi. Di balik keajaibannya, terdapat kisah tentang kisah sejarah Kolombia dan Amerika Latin dari masa kolonial hingga seterusnya.

Ini adalah peristiwa sejarah di mana sang penulis mengalaminya sendiri. Gabriel García Márquez tumbuh dalam masa Kolombia terbagi karena konflik saudara antara partai Konservatif dan partai Liberal. Dia juga tinggal di lingkungan otokratis Meksiko dan sebagai jurnalis, meliput kudeta penduduk Venezuela di tahun 1958.

Namun, mungkin pengaruh terbesarnya adalah kakek-neneknya dari pihak ibu. Nicolás Ricardo Márquez adalah veteran Perang Seribu Hari di mana aksi perlawanan terhadap pemerintah konservatif Kolombia membentuk Gabriel García Márquez sebagai seorang sosialis.

Sebaliknya, takhayul populer milik Doña Tranquilina Iguarán Cotes menjadi dasar dari gaya novel Seribu Tahun Kesunyian. Rumah kecil mereka di Aracataca di mana sang penulis tinggal saat kecil menjadi inspirasi utama untuk Macondo.

Dengan Seribu Tahun Kesunyian, Gabriel García Márquez menemukan cara unik untuk menampilkan sejarah unik Amerika Latin. Dia mampu menggambarkan kenyataan aneh kehidupan masyarakat pasca kolonial, memaksa menghidupkan kembali tragedi di masa lampau.

Berbanding dengan semua fatalisme tersebut, terdapat harapan di dalamnya. Pada pidato Nobelnya, García Marquez merefleksikan sejarah panjang Amerika Latin dengan perselisihan antar saudara dan ketidakadilan yang merajalela.

Namun dia tetap mengakhiri pidatonya dengan menegaskan kemungkinan akan dunia yang lebih baik, dan mengutip, "di mana tak seorang pun mampu menentukan kematian seseorang, di mana cinta akan terbukti nyata dan kebahagiaan adalah hal yang mungkin, dan di mana kaum yang ditakdirkan dalam kesunyian seribu tahun akan mempunyai, setidaknya sekali dan seterusnya, kesempatan kedua di bumi."

Transkrip dari TED-Ed. Translator: Adela Yolanda Sekarningtyas. Reviewer: Ade Indarta

Posting Komentar

0 Komentar