Susu, Sehat atau Berbahaya?

Dalam dekade terakhir, susu menjadi hal yang cukup kontroversial. Sebagian orang bilang susu adalah makanan yang bernutrisi tinggi, penting untuk kesehatan tulang, tapi sebagian lainnya menganggap susu mengakibatkan kanker dan kematian dini. Jadi, siapa yang benar? Dan kenapa kita meminumnya?

Susu adalah makanan dasar semua mamalia setelah dilahirkan saat sistem pencernaan kita masih kecil dan belum dewasa. Pada dasarnya, susu adalah makanan super yang membantu pertumbuhan kita.


Keterangan: Video telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

Susu kaya akan lemak, vitamin, mineral, dan gula susu: laktosa. Selain itu, untuk sementara waktu setelah kelahiran, susu juga dapat mengandung antibodi dan protein yang menjaga kita dari infeksi dan mengatur sistem imun kita.

Tapi, butuh usaha yang banyak untuk ibu dalam memproduksinya. Pada akhirnya, manusia mulai berhenti menyusu dan beralih ke makanan yang dimakan orang tuanya. Hal ini sudah terjadi selama beribu-ribu tahun. 

Sampai pada sebelas ribu tahun yang lalu, saat nenek moyang kita beralih ke komunitas bercocok tanam pertama. Segera, mereka mulai menjinakkan hewan perah pertama mereka: kambing, domba, dan ternak lain. Mereka menemukan bahwa hewan-hewan ini bisa memakan hal-hal yang tidak berguna dan mengubahnya menjadi makanan yang enak dan bernutrisi.

Hal ini membuat perubahan besar dalam kelangsungan hidup mereka, terutama di saat keadaan yang sulit. Hal ini membuat kelompok yang memiliki ketersediaan susu punya keuntungan evolusioner. Dan setelah seleksi alam terjadi, gen dari komunitas yang mengonsumsi susu berubah.

Adaptasi ini berkaitan dengan enzim khusus, yaitu laktase. Bayi punya laktase yang banyak di pencernaan mereka, jadi mereka bisa memecah laktosa dan mencerna susu dengan mudah. Tapi semakin kita tua, produksi laktase akan semakin menurun.

Di seluruh dunia, sekitar 65% dari populasi tidak memiliki enzim tersebut setelah masa bayi, ini berarti mereka tidak bisa mencerna laktosa lebih dari 150 ml dalam sehari. Intoleransi terhadap laktosa ini ternyata tidak tersebar rata di seluruh dunia. 

Di beberapa komunitas Asia Timur misalnya, angka tersebut dapat mencapai hingga 90%. Di Eropa Utara dan Amerika Utara, jumlahnya rata-rata lebih sedikit. Ada beberapa kemungkinan kenapa distribusi ini tidak merata.

Mutasi sifat ini pertama kali terjadi secara acak yang terjadi secara independen di beberapa populasi. Sistem cocok tanam yang menggantikan sistem berburu lama-kelamaan membuat tekanan seleksi alam yang besar. Orang yang mampu mencerna laktosa berarti punya lebih banyak makanan, yang tentunya adalah sebuah keunggulan. 

Migrasi petani ternak ke utara menyebarkan sifat ini lebih lanjut dan menekan populasi yang tidak memiliki sifat tersebut di tempat barunya.

Jika susu sudah menjadi bagian dari pangan kita selama ribuan tahun, kenapa sekarang menjadi kontroversial?

Ada beberapa klaim mengenai dampak negatif dan positif dari susu. Klaim negatif tersebut mencakup berbagai hal, mulai dari kerapuhan tulang, kanker, penyakit kardiovaskuler, sampai intoleransi dan alergi. 

Bagaimana klaim ini bisa muncul?

Beberapa penelitian terdahulu menemukan adanya koneksi antara konsumsi susu dan resiko tinggi kanker payudara, usus, dan kanker prostat. Tetapi meta-analisis tidak menemukan efek peningkatan resiko kanker ini.

Sebaliknya, kalsium pada susu mungkin memiliki efek protektif terhadap kanker usus. Walaupun masih belum jelas efek protektif ini dimiliki oleh susu saja atau kalsium secara umum. Hanya penelitian mengenai kanker prostat saja yang menunjukkan peningkatan resiko pada orang yang mengkonsumsi susu satu seperempat liter per hari.


Tapi lagi-lagi, asosiasinya masih tidak konsisten dan beberapa penelitian tidak menemukan efek ini.

Kami mendiskusikan penelitian-penelitian ini lebih detail di sumber kami. Intinya, riset menunjukkan bahwa 100 hingga 250 ml susu per hari, kanker bukanlah masalah. Demikian pula, meta-analisis tidak dapat menemukan dampak dari susu atau olahan susu terhadap risiko penyakit jantung, stroke, atau kematian total.

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa resiko tekanan darah tinggi lebih rendah pada orang yang mengkonsumsi susu, walaupun bukti yang ada belum mencukupi untuk menguatkan klaim ini.

Kasusnya menjadi lebih rumit ketika kita membicarakan tentang tulang. Penelitian-penelitian yang sudah ada tidak menemukan adanya efek positif maupun efek negatif pada orang dewasa.

Hal yang banyak orang khawatirkan adalah jumlah pestisida, antibiotik, dan hormon yang dikandung oleh susu. 

Hormon memang ada di dalam susu, tapi dalam jumlah yang sangat sedikit. Sebagai perbandingan untuk mendapatkan jumlah hormon yang sama dengan yang dikandung dalam pil hormon, seseorang butuh mengkonsumsi 5000 liter susu. Dan bahkan jika kita melakukan itu, sebagian besar akan dihancurkan oleh sistem pencernaan sebelum hormon tersebut mempengaruhi. Inilah alasan kenapa senyawa obat harus dilindungi dari pencernaan kita.

Untuk masalah pestisida dan antibiotik, sudah ada regulasi yang mengatur jumlah senyawa-senyawa ini di dalam susu. Jika ada yang mengandung lebih dari batas yang ditentukan, susu tidak boleh diperjualbelikan. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Selain alergi dan mereka yang menderita intoleransi laktosa, efek negatif susu yang paling terkenal adalah jerawat dan efek kembung dan mual setelah mengkonsumsi susu atau produk olahannya dan efek-efek ini benar-benar nyata.

Contohnya, susu skim secara statistik dapat meningkatkan pertumbuhan jerawat sampai 24%. Alergi terhadap olahan susu sangat umum di kalangan anak-anak, dengan 1 dari 18 anak di Jerman alergi terhadap susu. Secara umum, alergi ini lama-kelamaan akan hilang setelah dewasa.

Apa susu benar menyehatkan?

Susu, dari sumber mana pun, susu ibu, sapi, domba, kambing, atau bahkan unta, adalah pangan yang kaya nutrisi. Susu mengandung makronutrien-makronutrien penting serta banyak mikronutrien. Terutama di daerah yang kekurangan bahan pangan, susu dapat berkontribusi untuk kehidupan yang menyehatkan dan mengurangi kematian anak.

Bagi mereka yang hidup di negara maju, secara umum susu tidaklah berbahaya jika kamu tidak alergi dan/atau tidak memiliki laktosa intoleran. Susu adalah sumber kalsium yang baik, apalagi untuk anak-anak, serta sumber vitamin B12 dan vitamin B lainnya bagi kamu yang vegetarian.

Ini bukan berarti tidak ada pengganti susu dengan nutrisi yang sama. Kamu tidak perlu minum susu tiap hari. Susu juga bukanlah pengganti dari air. Susu adalah pangan super dan tambahan kalori yang dimilikinya dapat menyumbang resiko obesitas jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih.

Apalagi susu yang diberi pemanis dan perasa, susu ini bahkan lebih tepat disandingkan dengan minuman manis seperti soda dibanding camilan sehat.

Ada hal lain yang perlu dipikirkan. Produksi susu punya efek yang signifikan terhadap iklim global. Sekitar 33% lahan pertanian dunia digunakan untuk konsumsi hewan-hewan perah. Walaupun jejak karbon dari produksi olahan susu sudah menurun sejak 1990, produksi olahan susu masih bertanggung jawab atas 3% dari emisi gas rumah kaca global, ini lebih banyak dari emisi semua pesawat terbang.

Susu adalah industri besar tapi sayangnya banyak proses produksinya yang menyebabkan penderitaan. Sapi-sapi dibuat bunting berkali-kali dan langsung dipisahkan dari anaknya setelah melahirkan, dan langsung disembelih setelah tidak bisa memproduksi susu lagi.

Kita tidak bisa mengelak bahwa susu yang kita konsumsi berasal dari industri yang pada dasarnya adalah kontributor terhadap perubahan iklim.

Lalu, bagaimana dengan susu berbasis tanaman?

Dari segi protein dan nutrisi-nutrisi lain, hanya "susu" kedelai yang bisa menyaingi susu sapi. "Susu-susu" yang lain harus ditambahkan secara artifisial kalsium dan vitamin nya sehingga mereka bisa setingkat dengan susu sapi agar bisa menjadi alternatif terhadap susu. Beberapa pilihan baru akan segera tersedia.


Beberapa perusahaan startup mulai menciptakan susu berbasis non-hewani yang mengandung nutrisi identik dengan susu perah. Contohnya, susu hasil fermentasi bakteri yang telah dimodifikasi gen. Susu hasil lab ini bahkan sudah bisa dibuat menjadi keju, hal yang sangat sulit dilakukan susu berbasis tanaman karena mereka tidak mengandung protein kasein dan whey, protein penting yang memberikan rasa dan struktur pada produk susu.

Dampak lingkungan dari industri-industri ini ternyata berbeda 180 derajat. Banyak industri susu alternatif menggunakan energi, lahan, dan air yang lebih sedikit dibanding industri susu perah sehingga mempunyai dampak lingkungan yang rendah.

Jika kita tidak ingin memberikan dampak negatif terhadap planet, pilihan terbaik adalah untuk memilih susu alternatif dari daerah masing-masing. Seperti masalah-masalah lain, susu adalah masalah yang rumit.

Susu tetap merupakan produk yang tidak berbahaya bagi sebagian besar populasi dan penting bagi banyak orang di seluruh dunia. Susu adalah pangan baik dan bernutrisi, tapi juga berbahaya bagi planet dan menyengsarakan.

Kita harus menentukan langkah sebagai suatu masyarakat bagaimana harus bersikap terhadap fakta-fakta ini.

Naskah artikel ini diambil dari Kurzgesagt – In a Nutshell https://www.youtube.com/user/Kurzgesagt - Terjemahan dari YouTube community. 

Posting Komentar

0 Komentar