Aeroponik, Pertanian Masa Depan Tanpa Tanah dengan 95% Lebih Sedikit Air

Anda tidak dapat melihatnya di luar, tetapi lingkungan industri lama ini ternyata adalah sebuah oasis pertanian. Di dalam bekas arena bermain ini, sekitar 250 jenis sayuran hijau tumbuh dalam jumlah besar, untuk dijual ke supermarket dan restoran setempat. Ini adalah AeroFarms, pertanian vertikal dalam ruang besar di Newark, New Jersey.


Keterangan: Video ini tidak memiliki subtitle Bahasa Indonesia resmi. Namun seluruh transkrip video tsb telah diterjemahkan ke dalam artikel ini.

DAVID ROSENBERG (CEO AeroFarms): Misi kami adalah membangun pertanian di kota-kota di seluruh dunia agar orang-orang memiliki akses ke makanan segar, enak, bergizi tinggi.

Tanaman ditumpuk lebih dari 9 meter di dalam ruang 9000 meter persegi ini. Mereka tumbuh menggunakan teknologi aeroponik.

DAVID ROSENBERG: Biasanya di dalam pertanian indoor, akar tumbuh di dalam air dan petani mencoba melakukan oksigenisasi air. Pendiri kami menyadari bahwa jika kami menyemprotkan kabut nutrisi ke struktur akar, maka akar tersebut memiliki oksigenasi yang lebih baik.

AeroFarms mengatakan sistem pengabutan akar memungkinkan mereka untuk menggunakan air 95% lebih sedikit daripada pertanian lahan biasa. Mereka juga tidak menggunakan pestisida atau herbisida. Tidak ada tanah, tanaman ditanam di kain yang dapat digunakan kembali, terbuat dari plastik daur ulang. Dan tidak ada matahari, yang ada adalah barisan pencahayaan dengan lampu LED khusus.


DAVID ROSENBERG: Banyak orang bilang, tanpa matahari? Tunggu, tanaman butuh sinar matahari. Faktanya, tanaman tidak membutuhkan spektrum kuning, jadi kami dapat mengurangi penggunaan energi kami dengan melakukan hal-hal seperti mengurangi jenis spektrum tertentu.

Sistem yang dikendalikan oleh iklim yang canggih ini memotong siklus pertumbuhan menjadi setengahnya, sehingga tanaman dapat tumbuh sepanjang tahun, tetapi dengan dampak yang jauh lebih kecil terhadap lingkungan.

DAVID ROSENBERG: Bahaya makin tinggi di planet kita, 70% dari kontaminasi air tawar kita berasal dari pertanian, 70% dari penggunaan air bersih di bumi digunakan untuk pertanian. Sepertiga dari tanah subur kita telah terdegradasi dalam 40 tahun terakhir. Semua tren makro ini menunjukkan fakta bahwa kita membutuhkan cara baru untuk memberi makan penduduk planet bumi.

Salah satu pendorong awal pertanian vertikal adalah ahli ekologi  Dickson Despommier dari Universitas Columbia. Pada tahun 1999, Despommier dan mahasiswanya mengusulkan bahwa pertanian vertikal dapat memberi makan kota-kota yang kelebihan penduduk sambil menggunakan lebih sedikit tanah dan lebih sedikit air. Mereka juga akan memotong gas rumah kaca dengan menghilangkan kebutuhan untuk mengangkut makanan jarak jauh. Dan ide tersebut akhirnya makin banyak diterima.

Selama beberapa tahun terakhir, pertanian vertikal telah tumbuh di seluruh dunia, termasuk di Vancouver, Singapura, Panama, Inggris, dan di sekitar AS. Di sini, di Newark, AeroFarms sedang membangun pertanian baru di bekas pabrik baja, yang lebih besar dari lapangan sepak bola. Setelah sepenuhnya beroperasi, itu diharapkan untuk menghasilkan hampir 1 juta kilogram sayuran setahun - semua tumbuh secara vertikal.

DAVID ROSENBERG: Kami meneliti kebutuhan tanaman dengan sangat hati-hati untuk mencoba dan memahami apa yang mereka butuhkan  dan mencoba serta mengoptimalkan kualitas semua tanaman yang berbeda-beda ini. Tentu saja ini adalah bisnis yang sulit, tapi kami yakin akan tetap bertahan dan akan memiliki dampak yang lebih besar dan makin besar lagi ke depan.

Apakah Anda pikir pertanian vertikal akan membantu menyelesaikan masalah produksi pangan kita? Beri tahu kami melalui komentar di bawah.

Posting Komentar

0 Komentar