Penelitian Menakjubkan tentang Bayi dan Rasa Cinta (Full Netflix Series)

Ketika kita melihat seorang bayi, Anda pasti akan bertanya-tanya. Apa yang terjadi di dalam? Dari mana asal kepribadiannya? Bagaimana mereka menjadi diri mereka sendiri?

Sebagai seorang ilmuwan dan orang tua baru, saya menyadari bayi terlahir tak berdaya. Namun, mereka akan tumbuh menjadi penguasa alam semesta. Bagaimana itu terjadi?


Keterangan: Video ini telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

Yang menarik saat ini adalah kita punya banyak cara baru untuk menjawab itu. Kini kita sadar bahkan bayi yang sangat muda pun sudah tahu dan belajar lebih banyak daripada yang kita kira.

Episode selanjutnya... SEBANYAK 15 BAYI DIDOKUMENTASIKAN SELAMA SATU TAHUN - SEBANYAK 36 ILMUWAN TERKEMUKA DI DUNIA - MENGUNGKAPKAN BAGAIMANA KITA SEMUA BERMULA.

Bukankah itu luar biasa, bahwa jawaban atas arti menjadi manusia terletak di makhluk termuda dan terkecil? Bayi kita.

Ruth Feldman, Director, Centre for Developmental Social Neuroscience, IDC Herzliya, Israel, menjelaskan penelitiannya lebih jauh.

Hubungan dengan orang tua kita adalah pengalaman paling bermakna. Itu berdampak besar pada cara bayi berkembang dan merasakan dunia.

Saya berusia 22 tahun saat Estie, putri sulung saya, lahir. Dia diletakkan di dada saya dan saya rasa saya merasakan apa artinya mencintai saat itu.

Lalu, sebagai ilmuwan, saya ingin memahami apa yang terjadi di otak ketika kita jatuh cinta kepada bayi kita. Apa itu ikatan dari pandangan biologi?

Pada awal tahun 90-an, kita tak sepenuhnya memahami bagaimana ikatan antara ibu dan bayi berkembang.


Dalam penelitian saya, saya menemukan beberapa karya ilmiah yang menjelaskan pentingnya hormon oksitoksin untuk membangun ikatan pada mamalia. Itu benar-benar membuka mata saya. Jadi, saya bertanya-tanya apa oksitoksin terlibat dalam pembangunan ikatan yang saya alami dengan anak-anak saya sendiri.

Pada tahun 2001, kami memulai studi pertama untuk menguji peran oksitoksin dalam pembangunan ikatan orang tua/bayi. Ini petualangan yang seru. Kami merekrut sekitar 80 ibu dan bepergian ke utara dan selatan negeri untuk mengumpulkan sampel selama kehamilan dan di bulan pertama setelah melahirkan.

Temuan kami adalah tingkat oksitoksin pada ibu meningkat ketika hamil dan tetap tinggi selama kehamilan serta setelah melahirkan.

Kami juga menyadari ketika ibu dan bayi sering saling bersentuhan, tingkat oksitoksin pada keduanya meningkat, dan ini membuat Anda ingin lebih terlibat dengan bayi. Otak memberi ibu perasaan memperoleh penghargaan yang intens. Jadi, makin tinggi oksitoksin pada seorang ibu, makin terikat dia dengan bayinya.

Namun, saya tahu ini hanya separuh dari persamaan. Saya mulai bertanya-tanya apa yang terjadi dengan para ayah.

Untuk studi berikutnya, kami ingin melihat apa ada dampak pada tingkat oksitoksin ayah. Jadi, kami merekrut 80 pasangan. Lalu kami mengukur oksitoksin pada ayah, di bulan-bulan pertama, tepat setelah kelahiran anak.

Kemudian ketika melihat hasilnya, itu sangat mengejutkan. Tingkat oksitoksin ibu dan ayah sama. Itu kejutan besar.

Kita tahu selama lebih dari seratus tahun, ibu akan mengalami peningkatan oksitoksin ketika hamil, melahirkan, dan menyusui. Namun, bagaimana ayah punya begitu banyak oksitoksin?

Kami menemukan bahwa makin sering Anda menghabiskan waktu bersama bayi, benar-benar berusaha dengan keras, merawat anak, memandikannya, memberinya makan, berperan aktif sebagai orang tua, maka makin banyak sistem oksitoksin Anda akan aktif.

Ini luar biasa. Menjadi ayah adalah proses biologis. Sama dalamnya dengan menjadi ibu.

Kita semua tahu ketika bayi menangis pada malam hari, biasanya sang ibu yang mendengarnya. Mungkin sang ayah akan bangun, mengganti popok, tapi ibulah yang tak bisa tidur.

Ketika melihat otak ibu, kami menemukan lonjakan oksitoksin saat lahir mengaktifkan struktur primitif. Amigdala. Ini amigdala. Anda melihatnya di kedua sisi otak. Itu membuat kita waspada dan khawatir terhadap bayi.

Begitu amigdala ibu terbuka, itu terbuka selamanya, berapa pun usia anak Anda. Saat melihat otak ayah, kita melihat ada perbedaan. Sekitar seperempat dari apa yang Anda lihat di otak ibu.

Namun, tak semua keluarga punya ibu.

Pada tahun 2010, kami merekrut sekelompok orang tua unik tanpa ibu. Kami merekrut 48 pasangan homoseksual yang hidup berpasangan dan berkomitmen, memiliki anak melalui surogasin (pengangkatan anak), serta merawat bayi sejak hari pertama bayi lahir.

Kami merekamnya di rumah, si bayi berinteraksi dengan para orang tua dan kami membawanya ke lab untuk menyandikannya. Kami juga mengukur tingkat oksitoksin. Lalu kami memindai otak sang ayah. Ketika menganalisis hasilnya, kami mendapat kejutan besar.

Ketika sang ayah menjadi pengasuh utama, amigdala mereka aktif seperti ibu. Kami tak menyangka akan menemukan ini. 

Kehamilan, kelahiran, dan menyusui mengaktifkan otak keibuan. Namun, itu juga aktif pada tingkat yang sama dengan mencurahkan kasih sayang. Jadi, tak peduli apa Anda orang tua kandung atau orang tua asuh yang berkomitmen. Itu pilihan. Itu pilihan untuk menjadi orang tua bagi sang bayi.

Ed Tronick, Professor of Psychology, University of Massachusetts, USA, menjelaskan penelitiannya lebih jauh.

Saya masuk Departemen Psikologi di Universitas Harvard pada tahun 1968. Saat itu, semua orang sedang melakukan studi sains kompleks (hard science). Persepsi visual, pembelajaran, dan ingatan. Namun, saya sangat tertarik pada apa yang terjadi antara ibu dan bayi mereka. Itu belum pernah benar-benar diteliti.

Salah satu profesor saya pernah merangkul saya dan berkata, "Masalah emosi bukan hal yang ingin kau teliti". Entah kenapa saya menolak itu karena saya ingin bertanya, "Apa bayi terlahir siap untuk terlibat dalam hubungan sosial?" Atau, "Apa bayi itu hanya bersifat pasif?"


Ini membawa saya ke pengembangan eksperimen wajah datar. Ada beberapa ibu yang bermain dengan bayi muda berusia tiga, empat, lima bulan.

Jika sang bayi sangat gembira, sang ibu menjadi sangat gembira juga. Lalu kami meminta para ibu untuk berhenti merespons bayi mereka sekitar dua menit untuk melihat yang akan dilakukan bayi. Para bayi segera menyadari ibu mereka tak bereaksi seperti biasanya. Mereka akan tersenyum ke ibunya. Pada akhirnya, para bayi mungkin menangis. Namun, mereka akan terus berusaha untuk kembali menjalin hubungan.

Sudah jelas bahwa bayi terlahir dengan kapasitas untuk terlibat dalam interaksi sosial. Itu sesuatu yang terintegrasi dan penting bagi kita. Jika hubungan terganggu, itu memiliki efek emosional yang sangat kuat, baik terhadap bayi maupun orang dewasa.

Stres tak terelakkan. Anda tak bisa menghindarinya. Jadi, apa hubungan baik antara orang tua dan bayi membantu bayi mengatasi stres?

Kami telah menyiapkan cara baru untuk menggunakan eksperimen wajah datar dengan melihat jumlah stres yang dialami bayi.

Hal pertama yang kami lakukan adalah mengambil sampel air liur bayi dan melihat tingkat hormon stres yang disebut kortisol. Makin tinggi tingkat kortisol, makin besar tingkat stres bagi bayi.

Eksperimen wajah datar membantu kami mengamati apa yang terjadi dalam interaksi biasa antara ibu dan bayi mereka. Yang kita lihat di sana adalah mereka saling mencocokkan, seperti menari berdua secara terkoordinasi.

Begitu kami mulai, bayi melihat ada perubahan. Mereka langsung menyadarinya. Bayi mencoba memancing respons ibu. Mereka mungkin mulai rewel, bahkan menangis, ketika ibu mereka tak merespons.

Namun, pada akhirnya, mereka memasukkan tangan mereka ke mulut dan menenangkan diri mereka sendiri.

Tak butuh waktu lama bagi bayi dan ibu untuk mencari cara untuk menjalin hubungan kembali setelah tekanan dari eksperimen wajah datar. Itu sangat penting bagi bayi. Itu berarti bayi bisa memercayai orang ini untuk memperbaiki, meluruskan, setelah ada kesalahan dalam interaksi.

Saat mengamati tingkat kortisol selama percobaan, kami menemukan bahwa saat bayi merasakan pengalaman positif dengan orang tua, bayi tak terlalu tertekan selama eksperimen wajah datar dan menunjukkan tingkat hormon stres kortisol lebih rendah.

Ini sungguh penemuan yang luar biasa dan itu menunjukkan pengaruh pola asuh terhadap perilaku bayi di dunia. Setiap orang tua kesulitan untuk mencari tahu, "Apa yang bayi saya butuhkan?" 

Namun, jika terus mencoba, Anda akan menemukan jawabannya. Percayakan kepada bayi Anda untuk memberi tahu Anda apa yang dia butuhkan dan percaya pada naluri Anda sendiri mengenai cara merespons.

Begitulah cara kalian berdua... saling jatuh cinta.

Anne Rifkin-Graboi, Head, Infancy and Early Childhood Research, NIE, NTU, Singapore, menjelaskan penelitiannya lebih jauh.

Sebagai orang tua, saya dihadapkan dengan dilema setiap hari. Saya ingin anak-anak saya suka berpetualang dan berani, tapi saya juga ingin menjaga mereka tetap aman. Ini pilihan serius.

Jadi, saya bertanya-tanya, apa dampak pilihan pola asuh ini terhadap perkembangan bayi?

Otak bayi yang baru lahir berkembang cukup cepat di awal kehidupan. Saya ingin merancang studi yang memungkinkan kita untuk mengamati apa pola asuh akan memengaruhi otak bayi selama periode kehidupan yang unik ini.

Saat kami pertama mulai mengamati ini, setahu saya, tak ada banyak perbedaan dalam pola asuh dan otak bayi. Jadi, kami butuh pindaian otak bayi segera setelah mereka lahir, sebelum mereka merasakan gaya pola asuh apa pun.

Untungnya, kami berkesempatan besar untuk memanfaatkan studi yang jauh lebih besar, yaitu studi Tumbuh Besar di Sangapura Menuju Hasil yang Sehat.

Dalam studi ini, bayi telah dipindai dalam beberapa minggu pertama kehidupan. Jadi, kami punya semacam data awal untuk perkembangan otak. Kami harus mengikuti perkembangan bayi-bayi itu hingga usia enam bulan, dan memindai otak mereka lagi, serta mengamati perbedaan dalam gaya pola asuh.

Kami membawa ibu dan bayi ketika bayi berusia enam bulan lalu mengamati perilaku pola asuh di laboratorium. Yang saya amati adalah seberapa perhatian dan responsif orang tua terhadap sinyal bayi?

Kami punya 20 bayi, dan menilai perilaku sang ibu menggunakan sistem kartu deskriptif. Apa mereka merespons dari apa yang dilakukan bayi?

Jika bayi sedang meraih sesuatu, apakah sang ibu membiarkannya memilih atau sang ibu yang memilih?

Interaksi ini sangat kecil dan terkadang berlangsung sangat cepat. Namun, seiring waktu, data yang terkumpul akan melengkapi gambaran seperti apa hubungan itu.

Kami mengamati untuk melihat perbedaan dalam gaya pola asuh. Kini kami perlu mengamati bagaimana gaya pola asuh ini memengaruhi area-area di otak bayi?

Untuk melakukan itu, kami harus mengembalikan bayi ke MRI untuk pemindaian enam bulan mereka. Sangat sulit memindai bayi. Karena agar pemindaian berhasil, seseorang harus diam. Itu bukan sifat natural bagi bayi. Untuk mempermudah, bayi diberi makan lebih dulu agar tertidur.


Saya menemui rekan saya, Anqi Qiu, ahli pencitraan saraf, timnya memproses data ini. Saya sangat bersemangat untuk melihat yang dia temukan.

Ini gambar strukturalnya. Kini kau bisa melihat titik merah muncul. Itu letak hipokampus. Namun, ini baru satu bayi. Ya, benar. Namun, jika mengamati semua pindaian kami, kau melihat banyak individu yang memiliki pola yang mirip. Itu sangat luar biasa.

Hipokampus, area menuju bagian tengah otak, yang berbeda sesuai gaya pola asuh. Pada bayi yang diasuh secara kurang responsif, hipokampus mereka sedikit lebih besar.

Ini mengejutkan karena hipokampus sangat penting untuk pemelajaran dan pengelolaan stres. Itu menunjukkan bahwa bayi harus mengelola stres mereka sendiri karena tak mendapatkan dukungan yang cukup dari orang tua mereka.

Bahkan pada usia enam bulan, perbedaan pola asuh sehari-hari ini benar-benar berkaitan dengan perbedaan struktur otak bayi yang dapat diamati. Sepengetahuan saya, itu kali pertama kita melihat ini.

Ketika orang tua penuh perhatian dan responsif, bayi mengetahui dunia ini adalah tempat yang aman dan itu memberi mereka waktu untuk menjelajahi lingkungan mereka. Ketika tak mendapatkan sinyal yang sama tersebut dari orang tua, bayi mungkin perlu memprioritaskan memikirkan tentang keamanan dan kenyamanan daripada penjelajahan.

Saya berpendapat mengasuh anak itu sangat tidak mudah. Tak ada satu pun yang melakukan ini dengan sempurna.

Yang penting adalah pengalaman keseluruhan yang diterima oleh anak adalah pengasuhan yang penuh perhatian dan responsif. Menurut saya, bagi orang tua, itu sesuatu yang menenteramkan.

Di episode selanjutnya...

Bayi adalah misteri terbesar. Mereka jauh lebih kompleks daripada yang kita pikirkan. Bagaimana mereka mempelajari bahasa? Kenapa mereka banyak tidur? Bagaimana bayi belajar merangkak dan apa yang mereka pelajari ketika mereka merangkak di dunia ini? Salah satu teka-teki besar adalah apa rasanya menjadi seorang bayi?

Transcript dari Netlix. Terjemahan subtitle oleh Muhammad Pandu Abdillah.

Posting Komentar

0 Komentar