Bagaimana Terapi Plasma Darah Dapat Membantu Memerangi COVID-19

Anda mungkin telah mendengar tentang "terapi plasma darah," dan ada beberapa bukti awal yang menarik bahwa itu mungkin dapat menjadi pilihan untuk mengobati COVID-19. Satu-satunya masalah saat ini: kita tidak 100% yakin itu akan berhasil.


Keterangan: Video tidak memiliki subtitle Bahasa Indonesia resmi. Namun seluruh transkrip video ini telah diterjemahkan ke dalam artikel ini.

MICHAEL JOYNER, M.D. (Peneliti Utama, Program Plasma Penyembuhan Lanjutan, Klinik Mayo): Anda mendengar kisah-kisah positif, tetapi Anda selalu harus menyeimbangkan harapan Anda sebagai seorang dokter dengan objektivitas yang Anda coba laksanakan sebagai seorang ilmuwan.

Itulah sebabnya Dr. Joyner dan timnya telah memulai inisiatif nasional yang disebut Program Perluasan Akses untuk menentukan apakah terapi plasma cocok dengan pandemi saat ini dan itu mungkin dapat membantu kita mempersiapkan diri untuk wabah di masa depan juga.

Pertama, mari kita mulai dengan dasar-dasarnya. Darah Anda sekitar 45% terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Sisanya adalah plasma, cairan berwarna kuning jernih yang mengandung air, faktor pembekuan, CO2, hormon, ion mineral, glukosa, dan protein terlarut. Beberapa dari protein tersebut adalah antibodi. Mereka yang telah pulih dari COVID-19 memiliki antibodi terhadap SARS-COV-2 yang berada di dalam plasma darah mereka.

Jadi, idenya adalah menyuntikkan sebagian dari plasma yang kaya antibodi ke seseorang yang belum pulih, dan Anda dapat membantu mereka memperoleh "kekebalan pasif" - yaitu, perlindungan terhadap virus yang tidak harus mereka bangun sendiri.


Infusi plasma telah digunakan untuk mengobati keadaan darurat medis seperti luka bakar dan trauma, serta gangguan pendarahan yang dihadapi oleh pasien kanker, terapi plasma konvensional juga telah dipakai pada wabah penyakit masa lalu seperti SARS dan MERS, Ebola, dan bahkan selama pandemi influenza pada tahun 1918, dengan hasil yang beragam.

Jika kita dapat membuktikan bahwa terapi plasma dapat diterapkan untuk COVID-19, itu bisa menjadi pilihan yang layak untuk mengendalikan penyebaran virus ini.

Sebenarnya, donasi plasma adalah sesuatu yang relatif sederhana. Meskipun butuh waktu sedikit lebih lama dan melibatkan langkah tambahan di mana plasma dipisahkan dalam mesin pemisah dengan putaran, prosesnya sebagian besar sama dengan donor darah biasa. Satu donasi akan menghasilkan antara dua dan empat unit yang akan diperiksa dulu untuk memastikan bebas penyakit menular dan ditransfer ke pasien yang membutuhkan. Dan di bawah Program Akses yang Diperluas, proses ini akan dipercepat, ditawarkan lebih luas, dan didokumentasikan dengan ketat.

MICHAEL JOYNER, M.D .: Saya mengantisipasi bahwa dalam waktu seminggu kami akan menyediakan, 400 atau 500 unit, bahkan mungkin 1.000 unit sehari. Dan sekarang kami terus memantau situasi, mengumpulkan data sebagai dasar untuk langkah lanjutan.

Tetapi bahkan jika terbukti efektif, terapi plasma bukan tanpa tantangan. Kompatibilitas darah sangat penting, artinya tipe donor universal, AB untuk plasma, saat ini lebih tinggi permintaannya, bahkan  daripada prosedur itu sendiri. Beberapa penelitian dari wabah Ebola menunjukkan bahwa pasien dan donor harus berdekatan secara geografis untuk memastikan kekebalan terhadap jenis virus yang tepat, ini menyebabkan ketersediaan pasokan menjadi lebih terbatas. Dan seperti halnya perawatan apa pun, tetap ada risiko, termasuk dampak ke paru-paru, kelebihan sirkulasi, dan penyakit menular.

MICHAEL JOYNER, M.D .: Saya pikir salah satu hal yang kami harap dapat dilakukan dalam hal ini adalah untuk memahami bagaimana sifat-sifat plasma berhubungan dengan penyakitnya? Apakah kita dapat mengurangi risiko pasien masuk ke unit perawatan intensif, dan bagi pasien yang sudah ada di unit perawatan intensif, dapatkah kita mempersingkat masa inap mereka?

Prediksi menunjukkan bahwa terapi ini mungkin paling efektif ketika diberikan sebagai tindakan pencegahan, atau "profilaksis" bagi mereka yang paling berisiko, atau segera setelah terpapar virus. Tetapi jika ternyata plasma yang disembuhkan aman dan efektif pada setiap tahap COVID-19, apakah semua penyakit korona kita akan berakhir?


MICHAEL JOYNER, M.D .: Ini bukan obat mujarab. Ini adalah upaya untuk menghambat perkembangan wabah. Ini dapat membantu dalam kelompok pasien tertentu dalam kelompok keadaan tertentu. Dan itu benar-benar sebuah proses perkembangan dari gelombang pertama ke gelombang kedua untuk mengembangkan terapinya, kemudian di gelombang ketiga dari sisi bioteknologinya, dan akhirnya adalah vaksin.

Sampai saat itu, bahkan jika plasma penyembuhan COVID-19 ini ternyata mengecewakan dalam uji klinis, Dr. Joyner berharap bahwa pelajaran yang didapat dari pengembangan sistem ini akan membantu membangun pemecah gelombang yang kita perlukan agar di masa depan lebih siap saat gelombang berikutnya dari penyakit menular menyerang.

MICHAEL JOYNER, M.D .: Setiap kali Anda berhadapan dengan situasi seperti ini, sebuah bencana, kita harus dapat belajar dari prosesnya. Jadi pertanyaan yang perlu kita tanyakan pada diri kita adalah, infrastruktur dasar seperti apa yang kita butuhkan untuk untuk menghadapi wabah 100 tahunan penyakit menular yang baru seperti ini? Saya pikir jika kita memiliki strategi yang baik untuk menerapkan penjagaan jarak sosial, pelacakan penyakit dan upaya pelacakan kontak, dan strategi pengendalian wabah yang komprehensif ketika ada hotspot, produk ini dapat digunakan untuk membantu lebih mengontrol hotspot tersebut.

Jika Anda sudah pulih dari kasus COVID-19 yang terkonfirmasi, Anda mungkin memenuhi syarat sebagai donor. Untuk mengetahuinya, kunjungi situs web National Covid-19 Convalescent Plasma Project di https://ccpp19.org/

Sumber: Seeker.

Posting Komentar

0 Komentar