3D Printing yang Mengubah Dunia (Kasus di Adidas, Airbus, Dll)

Benda-benda terbentuk, seolah-olah diciptakan secara ajaib, selapis demi selapis, oleh sebuah mesin. Objek-objek itu dapat terbuat dari plastik atau bahkan logam. Rancangan konstruksi digital dengan cepat diwujudkan.

Kita berada di dunia yang sama sekali baru sekarang, menggabungkan perangkat lunak dan ilmu material. Sebuah proyek bergerak dari papan gambar ke produk jadi dengan kecepatan luar biasa. Dan printer tiga dimensi atau 3D memerlukan lebih sedikit bahan, tenaga, dan energi saat menghasilkan desain baru ini.


Keterangan: Video ini telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

Hal ini memungkinkan barang diproduksi dalam jumlah yang lebih rendah, lebih sering, lebih dekat ke titik konsumsi. Teknologi ini dapat memiliki kekuatan untuk merevolusi aliran barang dan ruang lingkup pasar produk. Ini sangat disruptif. Kita menghancurkan produk yang dibuat dengan cara lama selama beberapa dekade. Sekarang, sudah saatnya kita menggunakan pencetakan 3D.

Teknologi 3D tampaknya akan menjadi teknologi utama untuk bisnis. Kini 3D menjadi menjadi teknologi kunci yang bahkan mungkin mendorong beberapa industri yang telah meninggalkan Jerman untuk kembali ke Jerman.

Distrik Kreuzberg di Berlin adalah rumah bagi perusahaan bernama "BigRep" - yang membuat printer 3D skala besar. Insinyur Stephan Beyer mendirikan perusahaan ini tahun 2014. Di sini, 90 karyawan dari berbagai negara di dunia merancang dan membuat printer untuk klien industri.

Hasil cetakan ini dibuat dari plastik. Misalnya, untuk memproduksi kelongsong rumah, yang mengatur suhu ruang, berdasarkan seberapa tinggi sinar matahari.

[Stephen Beyer, BigRep CEO] Ini akan menjadi bagian dari fasad yang tingginya 10 kali 20 meter. Hal terbaik dari kelongsong ini adalah mampu memantulkan sinar matahari di musim panas, dan memungkinkan sinar matahari masuk di musim dingin, yang menciptakan suhu hangat yang baik. 

BigRep juga membuat suku cadang.

[Stephen Beyer] Ini adalah sandaran kepala untuk kursi kereta penumpang. Jika sandaran kepala hilang atau rusak, penumpang kereta akan merasa tidak nyaman - tapi kami dapat menyediakan kerangka baru.

BigRep telah merancang prototipe kerangka penyangga kepala dan sedang mengujinya untuk perusahaan kereta api Jerman, Deutsche Bahn.

Sebuah mesin menumpuk lapisan tipis dengan berbagai zat di atas satu sama lain - prosesnya, filamen plastik meleleh. Proses ini dikenal sebagai menufaktur aditif. Alat ini mencetak sub objek, jadi bukan dengan memapas blok materialnya.

Pencetakan 3D didasarkan pada model komputer. Mesin dapat membuat suku cadang, atau seluruh produk - seperti motor listrik ini. Ia dan tim BigRep sekarang membangun prototipe sepeda motor, yang akan ditampilkan dua minggu lagi di pameran perdagangan "Formnext" di Frankfurt.


[Stephen Beyer] Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum pameran Formnext. Kami harus menyiapkan printer, dan mencetak banyak komponen.

Hampir semua komponen dibuat oleh printer 3D - termasuk ban elastis, rangka, dan lampu. Banyak bagian dibuat dari plastik biodegradasi yang dapat dibuat dari tepung jagung.

Tim ini hanya membutuhkan 12 minggu untuk mendapatkan dari sketsa desain awal ke prototipe jadi. Tapi mereka masih mengerjakan beberapa desain yang cacat.

Para insinyur menghabiskan waktu setahun untuk mengutak-atik printer baru - dan sekarang mesin dapat dipasang di jalur produksi, dan dikontrol secara otomatis. Itu langkah penting menuju produksi massal. Sejauh ini, pencetakan 3D telah digunakan sebagian besar untuk satu kali proyek.

[Stephen Beyer] Yang hebat dari alat cetak 3D adalah kita dapat membuat bagian dan aplikasi yang dulunya tampak mustahil. Proses manufakltur standar tidak dapat mengerjakan desain rumit geometri tertentu - misalnya, untuk membuat furnitur.

Atau perangkat mencengkeram ini untuk robot - yang didasarkan pada desain tangan manusia. Perangkat ini dilengkapi dengan bilah fleksibel yang memberikan pegangan anti tergelincir.

[Stephen Beyer] Proses kreatif yang mengagumkan ini sepenuhnya digital. Seorang insinyur duduk di depan komputer dan hanya mendesain sesuatu - dan imajinasi desain itu tidak dibatasi oleh metode produksi klasik seperti menggergaji atau menggiling.

Konsep baru yang revolusioner ini dapat meningkatkan cara industri dalam mendesain, memproduksi, dan mengangkut produk-produknya.

Chicago adalah rumah bagi sejumlah perusahaan teknologi tinggi baru, termasuk Fast Radius. Mereka membuat komponen yang tepat dan cukup tahan lama untuk digunakan dalam industri teknik mesin. Fast Radius sering menggunakan resin bening, yang memungkinkan pencetakan lebih cepat.

Proses kerjanya seperti di film fiksi ilmiah. Perangkat logam mencelupkan ke dalam larutan resin bening. Komponen memadat seolah-olah dilakukan dengan ilmu sihir. Tidak diperlukan cetakan. Sumber cahaya di dalam larutan memastikan bahwa hanya bagian-bagian tertentu yang terbentuk. Proses ini membuat produk lebih ringan, dan juga menggunakan lebih sedikit bahan baku.

Pendiri dan CEO perusahaan adalah Lou Rassey. Fast Radius bekerja sama dengan perusahaan logistik UPS untuk sepenuhnya memikirkan kembali konsep rantai pasokan.

[Lou Rassey, Co-Founder & CEO, Fast Radius] Manufaktur aditif akan memiliki dampak mendalam pada bagaimana rantai pasokan global bekerja. Kami menyebutnya 'modalitas keempat logistik' yang nyata - yang kami maksudkan adalah bahwa dalam sejarah manusia, kita selama ini memindahkan barang dengan tiga cara: melalui jalan darat, melalui udara, dan melalui laut. Dan kini kita memiliki moda transportasi keempat - dan itu adalah bagian yang bergerak melalui internet dengan kecepatan cahaya.

Produksi digital menawarkan sejumlah keuntungan bagi klien potensial. Jaringan pencetakan 3D global dapat menyediakan produk dengan lebih efisien. Rute transportasi lebih pendek, dan tidak ada pabrik khusus yang besar.

Saat ini, printer 3D dapat menghasilkan apa saja - dan robot secara otomatis mengawasi jalur perakitan. Mesin-mesin ini dapat mencetak potongan tunggal, atau serangkaian produk - 24 jam sehari.

Namun sejauh ini, pencetakan 3D hanya menyumbang sebagian kecil dari penjualan manufaktur global - yang sekarang berjumlah sekitar Rp 175.000 triliun (ribu triliun!). Pendapatan untuk industri percetakan 3D pada 2017 hanya sekitar Rp 102 triliun. Tetapi selama sepuluh tahun ke depan, angka penjualannya diperkirakan akan mencapai 100 miliar dollar AS.

Banyak suku cadang sekarang dibuat oleh printer 3D. Perusahaan cukup hanya memindai dan menyimpan komponen, sehingga tidak perlu menyimpannya selama bertahun-tahun di gudang. Dan mereka dapat mencetak komponen baru kapan pun mereka membutuhkannya.

Berapa banyak titik data yang kita dapatkan untuk bagian ini?


[Fast Radius Engineer] Dari setiap pemindaian, ada dalam jutaan titik yang kami kumpulkan. Dan sekarang, untuk bagian seperti ini, jutaan titik sedikit berlebihan. Jadi apa yang terjadi dalam komputer itu sendiri memperhatikan redudansinya - menunjukkan di mana bisa disederhanakan dan kemudian membuang ratusan ribu titik.

Hasil pindaian disimpan dalam fasilitas digital - dan dapat dicetak kapan saja. Perusahaan menghemat uang, karena mereka tidak harus menyimpan banyak produk di gudang besar. Dan mesinnya awet, karena suku cadang selalu tersedia.

[Stephen Beyer] Salah satu klien kami dari sektor luar angkasa. Mereka membutuhkan alat yang penting untuk diperbaiki. Biasanya mereka akan membutuhkan waktu 48 hari untuk membuat alat tersebut diproduksi dengan metode konvensional. Sebaliknya, mereka memesan suku cadang dari gudang virtual kami - dan kami membuat bagian itu, mensertifikasi bagian itu, dan mengirimkannya ke belahan dunia dalam waktu 48 jam.

Sering kali lebih cepat untuk mencetak bagian komponen daripada membangunnya dari awal. Di masa depan, proses ini kemungkinan bisa dilakukan di tempat.

Situasi ini akan mengubah cara kerja perusahaan logistik seperti UPS dalam melakukan bisnis. Mereka tidak perlu menggunakan rute transportasi yang panjang, atau gudang untuk suku cadang pelanggan. Itulah sebabnya UPS bekerja sama dengan Fast Radius untuk mulai membangun jaringan global penyedia layanan cetak 3D.

[Alan Amling, UPS VP of Corporate Strategy] Teknologi ini memungkinkan barang diproduksi dalam kualitas yang lebih rendah, lebih sering, lebih dekat ke titik konsumsi. Hal itu akan secara radikal mengubah rantai pasokan - dan UPS harus dapat mengubah cara kerja dengan perkembangan itu. Dan itulah sebabnya kami berinvestasi di sektor ini, karena kami ingin menjadi bagian dari ekosistem yang berkembang ini.

Banyak produk tidak lagi diproduksi secara massal; namun akan dicetak secara individual, untuk memenuhi kebutuhan spesifik klien. Hal itu akan membantu mengurangi kelebihan produksi, dan rute transportasi yang panjang.

Produksi 3D juga menawarkan sejumlah keunggulan lainnya.

[Alan Amling] Jika Anda berproduksi untuk audiensi individual, misalnya sepatu khusus, atau penopang lutut khusus, atau ortotik khusus - itu tidak akan diproduksi di pabrik besar. Akan jauh lebih ekonomis untuk memproduksi dengan menggunakan alat percetakan 3D. Tapi semua bahan itu masih perlu sampai ke produsen 3D. Dan tidak akan ada lagi pengiriman ribuan barang massal dalam jumlah besar, ke depan adalah pengiriman ribuan produk individual. Jadi bagi perusahaan seperti UPS, ini perkembangan sangat bagus.

Mungkin menguntungkan bagi UPS, tapi juga dapat untuk mengurangi masalah kemacetan dan lingkungan. Artinya lebih banyak truk-truk yang mengirimkan barang-barang, dan menyebabkan polusi bertambah parah.

Kita sudah melihat dampak ini, dengan meningkatnya belanja online. Dan ada risiko lain, misalnya, bagaimana supaya pencetak 3D tidak dapat disalahgunakan untuk pembuatan senjata ilegal?

[Stephen Beyer] Apa yang kami lakukan... Kami memastikan dan menyaring setiap perusahaan tempat kami membuat komponen - untuk memastikan bahwa mereka tidak membuat senjata api ilegal.

Tetapi para penjahat akan selalu menemukan cara untuk mendapatkan senjata yang mereka inginkan. Senjata api buatan sendiri bukanlah hal baru. Tetapi bahan cetak 3D berkualitas tinggi saat ini dapat tahan terhadap tekanan dan panas yang ekstrem - sehingga dapat digunakan untuk membuat senjata.

Pada tahun 2013, beberapa wartawan Israel menggunakan printer 3D untuk membuat pistol, dan kemudian mengujinya.

Belakangan, para wartawan menyelundupkan pistol ke gedung parlemen Israel di Yerusalem. Pistol itu memiliki pin penembak logam, tetapi perangkat keamanan gagal mendeteksinya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadiri upacara di gedung itu. Reporter yang memiliki pistol 3D itu duduk hanya sepuluh baris darinya - dan bahkan mengarahkan senjata ke perdana menteri.

Pemerintahan Netanyahu kemudian mengkritik tindakan wartawan tersebut "tidak bertanggung jawab".

Distrik Finkenwerder di Hamburg adalah rumah bagi pabrik pesawat Airbus. Kepala departemen pengembangan teknologi baru perusahaan itu adalah Michael Sillus. Timnya menggunakan prototipe 3D untuk membantunya meningkatkan produksi komponen.

[Michael Silius, Manager, Emerging Technologies Division, Airbus ProtoSpace] Manufaktur aditif pasti memiliki potensi untuk mengubah seluruh rantai nilai. Kita dapat melakukan produksi di tempat, mendesain ulang proses, dan mencetak sesuai permintaan. Kita dapat mengembangkan produk yang sama sekali baru untuk pesawat generasi mendatang.

Di sinilah Airbus membangun jet penumpang A350-nya. Komponen kuncinya sekarang sedang dicetak dalam jumlah besar: poros kunci pintu. Pesawat ini akan mulai terbang akhir tahun ini.

[Michael Silius] Komponen ini biasanya terdiri dari sepuluh bagian, tetapi versi Airbus hanya memiliki satu. Kami telah mengintegrasikan beberapa fungsi, dan berhasil mengurangi bobot. Ada dua bagian ini per pintu, dan hasilnya membuat pesawat empat kilogram lebih ringan. Ini perkembangan besar dalam dunia penerbangan. Sangat bermanfaat untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi karbondioksida.

Dari lebih dari 30 tahun masa aktif sebuah pesawat, satu kilogram berat kurang akan menghemat setengah juta liter bahan bakar. A350 sebenarnya memiliki banyak bagian yang dicetak dengan teknik 3D: 16 poros pengunci pintu... 20 kompartemen kamar tidur kru pesawat, dan sekitar 1.000 komponen dalam berbagai panel, sistem ventilasi, dan peralatan elektronik. Airbus bahkan menguji prototipe kabel listrik cetak.

Pencetakan 3D sering digunakan untuk membangun struktur kisi, seperti dinding partisi kabin ini. Produk 3D menggunakan lebih sedikit material sehingga hasilnya lebih ringan dari model sebelumnya. Maskapai selalu berusaha mengurangi berat pesawat mereka, untuk menghemat bahan bakar. Tapi Airbus meyakini proses 3D bisa lebih efisien.

[Bastian Schafer, Innovation Manager, Airbus Operations] Ini adalah komponen terbesar yang dapat kami buat sekarang. Kami ingin membuat yang lebih besar. Kami membutuhkan total 900 jam untuk menghasilkan dinding partisi yang lengkap - dam konstruksi ruangan. Artinya kami harus membuat printer tujuh kali lebih banyak untuk menghasilkan 116 komponen yang kami butuhkan.

Waktu pencetakan 900 jam itu hanya untuk satu dinding. Itu pekerjaan berat. Di masa depan, mereka mungkin akan dapat mencetak cetakan dan kemudian mencetaknya lagi dan lagi.

Saat ini, metode produksi massal konvensional masih dapat menghasilkan komponen seperti ini lebih cepat dan lebih murah daripada 3D. Tapi situasi itu bisa segera berubah.


Ini adalah Formnext, pameran perdagangan manufaktur aditif di Frankfurt. Ada beberapa contoh canggih teknologi 3D di sini - seperti model tubuh manusia ini, dicetak dalam sekali proses.

Claus Emmelmann memberi nasihat kepada perusahaan-perusahaan tentang metode produksi 3D mana yang paling cocok untuk mereka. Dia mengatakan bahwa semakin banyak bisnis yang melakukan transisi ke teknologi ini.

[Claus Emmelmann, Director, Fraunhofer IAPT] Industri otomotif sekarang mulai mendesain komponen 3D untuk kendaraan mereka. Itu bagus untuk lingkungan, karena bagian-bagian itu hanya akan diproduksi sesuai permintaan - dan dapat dicetak dengan menggunakan bubuk yang bisa didapat secara lokal, dan dicetak di mana saja di dunia di mana pun yang membutuhkannya.

Misalnya, pedal rem ringan ini dibuat oleh printer 3D, dan diproduksi di pabrik setempat. Jadi ongkosnya lebih murah dan mengurangi polusi emisi.

[Claus Emmelmann] Kami biasanya menghemat enam ton emisi CO2 per kilogram, dibandingkan dengan metode konvensional.

Fasilitas ini di negara bagian Niedersachsen akan dapat mencetak bagian komponen 3D dari aluminium, dengan sepenuhnya otomatis. Teknologi ini dapat mendorong perusahaan untuk menjaga fasilitas produksi mereka di Jerman, daripada mengekspornya ke luar negeri.

[Claus Emmelmann] Kita bisa membawa pulang pabrik-pabrik itu kembali ke Jerman, asalkan sepenuhnya otomatis. Dan jika kita bisa melakukannya, kita akan meningkatkan nilai ekonomi perusahaan Jerman.

Tetapi produksi massal tradisional ongkosnya masih tetap lebih murah, terutama di Asia. Pencetakan 3D harus membawa keuntungan yang bisa ditawarkan, seperti mencetak beberapa komponen sekaligus. Inovasi semacam itu dapat meningkatkan profil kompetitif perusahaan Jerman. Pencetakan 3D sudah terkenal dengan kemampuannya untuk menghasilkan prototipe yang kompleks.

Sepeda motor yang dirancang dan dibangun oleh BigRep selesai pada waktunya sebelum pameran. Tetapi eksekutif perusahaan mengatakan bahwa mereka harus melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam memenuhi keingginan konsumen.

[Stephen Beyer] Kita semua tahu bahwa selama 30 tahun - pikirkanlah: Dalam 30 tahun - ada janji yang dibuat kepada pelanggan industri di luar sana tentang apa yang dapat dilakukan pencetakan 3D untuk mereka.

[Stephen Beyer] Kita berbicara tentang kecepatan. Apakah kita cukup cepat dalam mencetak? Kita berbicara tentang presisi. Apakah yang keluar dari mesin benar-benar seperti yang kita inginkan? Apa bisa mencetak berulang kali? Apakah kita mendapatkan bagian yang sama berulang-ulang? Inilah yang pelanggan industri inginkan. Dan saya rasa kita semua sepakat bahwa ada kekecewaan besar akan hal ini. Dan untuk itu, kita harus membuat perubahan - sekarang juga!

Banyak jenis pencetakan 3D masih terlalu lambat, terlalu tidak tepat, dan terlalu mahal - tetapi perbaikan sedang berlangsung. Printer BigRep baru bekerja hingga sepuluh kali lebih cepat daripada yang lama. Kecepatan mencetak adalah kunci untuk membuat teknologi 3D lebih menguntungkan.

Dan bahan serat karbon dapat membuat hasil cetak lebih tahan lama. Bahkan, sebuah perusahaan Amerika Serikat: "Carbon", yang berkantor pusat di dekat San Francisco, telah bekerja sama dengan Adidas untuk membuat sol sepatu olahraga. Adidas adalah pelopor dalam penggunaan teknologi 3D dalam produk-produknya.

Salah satu pendiri dan ketua dewan direksi Carbon, Joseph De Simone, menemukan proses yang memungkinkan untuk produksi massal komponen 3D yang dibuat khusus. Kemitraan perusahaannya dengan Adidas adalah langkah besar ke depan.

[Joseph DeSimone, Co-Founder & Executive Chairman, Carbon] Tak ada yang pernah menggunakan pencetakan 3D dengan volume tinggi. Adidas menjad pionir untuk mencobanya. Dalam kondisi saat ini, margin keuntungan belum bisa tinggi.

Proses ini dapat menghadirkan alternatif yang hemat biaya dibandingan dengan produksi massal konvensional. Dua tahun lalu, butuh lebih dari dua jam untuk mencetak sol sepatu seperti ini. Sekarang, hanya perlu 30 menit.

[Joseph DeSimone] Ini memungkinkan dunia percetakan 3D beralih dari dunia prototipe bernilai Rp 145 triliun menjadi raksasa produksi senilai Rp 4300 triliun.

Sejauh ini masih berupa visi. Struktur gerigi sol sepatu 3D belum dapat sepenuhnya disesuaikan secara individual. Dan produksi belum akan bisa berlokasi di Jerman, tempat Adidas berada. Sol sepatu yang dicetak dikirim ke pabrik-pabrik di Asia, di mana sepatu-sepatu dirakit.

Jadi saat ini, teknologi ini tampaknya belum bisa menjadi model produksi yang berkelanjutan. Tapi situasinya bisa berubah di masa depan.

[Joseph DeSimone] Keberlanjutan digital adalah kombinasi dari berbagai hal. Yang satu adalah dematerialisasi; yang lain, mengurangi rantai pasokan, bukan? Dan memenuhi produk sesuai permintaan, atau produksi lokal-untuk-lokal. Tapi kita bisa jauh melampaui itu. Sudah ada beberapa terobosan sekarang di mana kita bisa masuk ke bahan baku berbasis biologi.

Perusahaan Carbon sekarang masih membuat cetakan menggunakan resin sintetis, yang berbahan dasar minyak bumi. Ringannya bahan baku sensitif memudahkan perusahaaan untuk membuat produk yang desain konstruksi cetakannya rumit dengan bobot yang ringan. Alat ini juga beroperasi dengan cara khusus untuk membuat produknya lebih berkelanjutan.

[Joseph DeSimone] Adidas akan membuat semua sepatunya dengan poliuretana. Mereka menetapkan target dalam 10 tahun ke depan atau kurang dari itu untuk memproduksi sepatu yang bisa didaur ulang dan kini kami memiliki kemampuan untuk melakukan itu. 

[Joseph] Di sini, di pameran perdagangan Frankfurt banyak pakar mengatakan bahwa produksi 3D yang berkelanjutan memiliki prospek masa depan yang sangat cerah - tetapi bagaimana supaya hal tersebut bisa direalisasikan?

Ekonom Ulrich Petschow skeptis atas janji-janji dunia industri.

[Ulrich Petschow, Institute for Ecological Economic Research, Berlin] Ini adalah visi utama yang jadi harapan di masa depan. Pada titik ini, tidak ada banyak bukti untuk mendukung klaim bahwa keberlanjutan sejati benar-benar dapat dicapai.

Petschow bekerja di Institute for Ecological Economic Research di Berlin. Lembaga ini melakukan penelitian untuk meriset apakah rangka ponsel 3D di Jerman lebih ramah lingkungan daripada yang diproduksi secara massal di Asia - dan menemukan bahwa hasilnya hampir sama.

Itu karena emisi CO2 yang lebih rendah yang dihasilkan oleh pencetakan 3D tak bisa menutupi konsumsi energi yang lebih tinggi dari mesin cetaknya.

[Ulrich Petschow] Proses ini tidak terlalu berkelanjutan atau ekonomis, tetapi dapat menguntungkan bagi beberapa perusahaan di bawah kondisi tertentu.

Perusahaan-perusahaan itu dapat menghasilkan uang dari proyek pencetakan 3D yang mahal, hanya jika mereka dapat mempercepat atau merampingkan produksi. Namun, mereka akan menggunakan lebih sedikit bahan, dan beberapa produk dapat didaur ulang, bahkan jika dibuat khusus.

Kami datang ke perusahaan daur ulang Reflow di Amsterdam untuk mencari tahu apakah produk 3D benar-benar berkelanjutan.

Sekitar 80 persen dari produk-produk tersebut terbuat dari plastik, dan hanya sebagian kecil dari mereka yang terbuat dari bahan daur ulang atau yang dapat terdegradasi secara biologis.

Mesin ini mengubah botol plastik bekas menjadi filamen plastik yang dapat digunakan untuk mencetak. Butiran ini berasal dari botol yang terbuat dari PET. Bahan ini bagus untuk pencetakan 3D, dan tidak mahal.

Filamen itu digunakan untuk membangun dinding sebuah toko di London yang menjual busana yang terbuat dari bahan yang dapat didaur ulang. Keberlanjutan sering kali baik untuk bisnis, tetapi tidak semua orang mau membayar lebih untuk produk-produk ini. Jadi Reflow menjual filamen daur ulangnya dengan harga yang sama dengan pesaingnya yang produknya kurang berkelanjutan.

[Jasper Middendorp, Founder & CEO, Reflow] Industri tertarik pada produk keberlanjutan karena pada dasarnya konsumen menginginkan hal itu, bukan? Jadi ini kawan ekonomi makro besar. Dan para pemain industri hanya harus mengikutinya saja.

Misalnya, Reflow dapat memasok bahan produk 3D ke perusahaan yang membuat kacamata hitam. Maka bahan ini akan menggantikan seluruh blok plastik mentah - di mana rangka kacamata biasanya dicairkan. Hasilnya adalah bisa mengurangi limbah plastik.

Teknologi daur ulang Reflow sudah digunakan di beberapa negara lain. Di India, botol plastik yang dikumpulkan dari tempat pembuangan sampah dapat dikonversi menjadi filamen plastik untuk pencetakan 3D - dan mereka yang mengambil botol dan mendaur ulangnya dapat memperoleh penghasilan tambahan.

Teknologi ini dapat membantu meningkatkan siklus nilai tambah lokal di seluruh dunia - karena plastik yang dibuang dikonversi menjadi produk yang bermanfaat.

Industri 3D berkembang pesat, karena pencetakan menjadi lebih cepat dan lebih efisien.

Tetapi akan diperlukan beberapa waktu sebelum kita melihat peningkatan yang dijanjikan - seperti rantai pasokan yang lebih pendek, pengurangan produksi berlebih, mengurangi gudang untuk penyimpanan barang, dan penggunaan bahan daur ulang dalam sistem siklus tertutup.

Semua itu akan membutuhkan banyak investasi baru.



Posting Komentar

0 Komentar