Apa Motif Cina Membangun Jalan yang Menembus Pegunungan Pakistan?

Jalan Sutra Baru terus melaju dengan langkah cepat. Bahkan memotong jalur menembus pegunungan tertinggi di dunia. Kami pergi ke Jalan Raya Karakorum di Pakistan. Berada lebih dari 4.600 meter di atas permukaan laut, Khunjerab Pass terletak di perbatasan antara Pakistan dan Cina.

Gerbang perbatasan sepertinya bisa menjadi bagian dari Tembok Besar Cina - tetapi letaknya sangat jauh. Bagaimana pun, perbatasan di sini meniupkan suasana yang seakan tidak bisa ditembus.

Kami membandingkan waktu jam tangan kami. Jam tangan saya menunjukkan waktu Pakistan. Para tentara Cina berada di zona Waktu Standar Cina. Selisih tiga jam, hanya terpaut beberapa langkah.

Keamanan di sini ketat. Cina percaya negara itu harus melindungi diri terhadap ekstremisme Islam dari Pakistan. Tapi pejabat Cina di sini melintasi perbatasan sebagai hal yang biasa.


Keterangan: Video ini telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

[Petugas Bea Cukai Cina] Ini bukan wewenang kami.

Agak tidak masuk akal, pejabat bea cukai Cina menyatakan proses itu bukan tanggung jawabnya. Para VIP Cina tidak ingin diambil film atau pun fotonya. Seolah-olah kami masih di Cina. Pejabat itu juga menolak memberi wawancara.

Truk Cina berikutnya yang kembali dari Pakistan, tidak akan tiba sampai sore. Ini seharusnya menjadi gerbang pada rute perdagangan utama - tapi Jalan Sutra Baru tampaknya tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

[Li Song, supir truk Cina] Kami tidak membawa barang apa pun kembali. Mereka tidak punya apa-apa. Biasanya truk kami kosong ketika kami kembali ke Cina.

Pada perjalanan ke Pakistan, kontainar Li Song penuh dengan pakaian dan elektronik. Sekarang itu kosong. Itu adalah rute yang berisiko untuk hasil sekecil itu.

[Li Song] Ada tempat-tempat berbahaya. Ada belokan sangat tajam di sepanjang jalan di mana kontainer kami menyusuri tebing-tebing curam. Dan kadang-kadang ada batu yang jatuh. Itu berbahaya.

Bagian sisi truk menunjukkan tanda betapa berbahayanya Jalan Raya Karakorum. Truk itu melanjutkan perjalanan ke Cina. Kami tetap di Pakistan.

Kami mendapat pengawalan polisi saat kami melanjutkan ke situs konstruksi besar. Kami adalah kru televisi Barat pertama yang diizinkan untuk membuat film di sini. Ini adalah perjalanan panjang melalui lanskap yang indah, tapi berbahaya.

Cina dan Pakistan telah membangun jalan ini sejak sekitar 10 tahun lalu. Tetapi tidak jelas tujuan apa yang akan dilayaninya. Beberapa truk kosong, sulit mencari alasan untuk proyek pembangunan raksasa ini. Itu adalah jalan yang sangat lengang di Jalur Sutra Baru.

Pegunungan Karakorum juga tampaknya lebih suka dirinya terisolasi. Batu yang jatuh sering merusak jalan, yang kemudian harus diperbaiki. Pada Januari 2010, tanah longsor besar-besaran menewaskan 20 orang di desa Attabad. Itu memblokir sungai Hunza, menciptakan danau besar. Sebagian jalan raya Karakorum akhirnya tenggelam di bawah batu dan air. Jalan raya dialihkan, melalui pegunungan.


Sebelum berangkat untuk menyeberangi Pegunungan Alpen dengan pasukan gajahnya, Hannibal dari Kerajaan Kartago di Tunisia sekarang, konon pernah berkata, "Aku akan menemukan jalan atau aku akan membangunnya." Tujuannya adalah menaklukkan Roma.

Apakah Jalan Sutra Baru bagian dari rencana era modern untuk penaklukan Roma ala Hannibal?

Pada masa lalu, hanya pelancong yang paling berani yang mencoba untuk melintasi pegunungan Karakorum. Bahkan kini pun, waktu tampaknya tidak bergerak di desa-desa terpencil di lembah Hunza. Banyak tradisi lama tetap dilestarikan di sini. Tapi penduduk desa khawatir bahwa ketika jalan raya selesai, cara hidup mereka akan terancam.

Kami tidak melihat banyak perdagangan di sepanjang rute ini. Dan apa yang kami lihat lebih mengingatkan kafilah-kafilah pada masa Jalan Sutra kuno. Ada beberapa truk di jalan. Banyak yang dilukisi dan didekorasi, seperti kebiasaan di sini.

Jalan itu menelan biaya yang sangat tinggi. Pakistan berutang besar kepada bank-bank Cina dan perusahaan konstruksi Cina.

Tetapi Cina juga membayar harganya. Pemakaman ini adalah makam pekerja Cina, yang meninggal di lokasi konstruksi. Ini mengingatkan pada pemakaman militer - ternyata para pekerja ini adalah tentara Cina.

Apakah itu pertanda lainnya bahwa proses penaklukan sedang berlangsung?

Setelah perjalanan 600 km kami akhirnya mencapai lokasi konstruksi, tempat bentangan jalan berikutnya sedang dibangun menembus pegunungan. Bor pada dinding gunung untuk penghancuran batu terdengar sangat keras, tapi tidak ada pekerja yang mengenakan pelindung telinga. Mungkin itu bukan hal yang perlu dikuatirkan bagi mereka. Terowongan itu tidak stabil, dan bahaya batu yang runtuh selalu ada.

[Wang Hui, Perusahaan Jalan dan Jembatan Cina] Saya sering sulit tidur, terutama ketika sesuatu yang tidak terduga telah terjadi. Maka saya tidak bisa tidur. Hal yang sama berlaku bagi semua orang di sini di lokasi konstruksi, dan bos kami di Beijing.

Ada 7.000 orang Pakistan bekerja di sini dan 1.200 orang Cina. Ada makanan Cina di kantin, dan televisi pemerintah Cina. Tetapi keluarga mereka berada ribuan kilometer jauhnya, dan koneksi internet tidak dapat diandalkan.

[Percakapan pekerja Cina dengan keluarganya di tanah air] Halo. Apa kamu belum tidur? Bisakah kamu mendengar saya? Koneksinya buruk.

[Pekerja Cina] Tentu saja saya merindukan rumah saya, tapi kami tidak punya pilihan. Saya tidak bisa pulang sampai selesai di sini.

Para manajer yang mengawasi proyek konstruksi yang sangat besar ini tinggal dan bekerja di bekas hotel. Lokasi itu telah berubah menjadi benteng. Pemerintah Pakistan mengkhawatirkan keselamatan orang Cina, sehingga security diperketat.

Pagi harinya, kami bertemu Wang Hui, kepala insinyur. Dia telah mengerjakan proyek ini selama sepuluh tahun sekarang.


Konfusius berkata: Orang yang memindahkan gunung memulainya dengan membawa batu-batu kecil. Itulah yang dituntut Beijing dari Wang Hui - hari demi hari.

[Wang Hui] Bagi kami proyek ini berpacu melawan waktu. Kami hampir tidak mendapat istirahat. Kami bekerja dari pagi hingga pukul 11 malam, dan tidak pernah mendapat hari libur.

Wang Hui ingin menunjukkan kepada kami situs konstruksi khusus. Di sinilah kami akhirnya menyadari mengapa Cina sibuk membuat jalan menembus pegunungan. Mereka sedang membangun koridor melalui Pakistan.

Pimpinan insinyur membawa kami ke sebuah jembatan besar, 60 meter di atas tanah. Bagian jembatan yang diangkut ini berbobot 140 ton. Jembatan ini akan menjadi bagian dari jalan baru. Sepotong demi sepotong, jembatan demi jembatan, Cina mendekati tujuannya: akses langsung ke Laut Arab.

Sama seperti Kekaisaran Romawi yang mengonsolidasikan kekuatannya dengan jalan-jalan imperialnya, Cina membangun kekaisarannya sendiri, dengan jalur ini.

Pemandangan dari ketinggian ini memusingkan. Seperti rencana untuk membangun jalan di atas beberapa gunung tertinggi di Bumi.

[Wang Hui] Kelak akan saya tunjukkan ke putra dan putri saya di mana saya berjuang dan menderita. Saya yang membangun jalan ini. Saya akan sangat bangga.

Cina bertekad untuk terus maju, semakin jauh ke Barat. Ribuan kilometer masih menanti di depan kami, dan ribuan mil laut sampai ke Eropa.

Ketika Jalur Sutra Baru meluas semakin jauh ke Barat, itu memunculkan harapan sekaligus memicu protes.

Dalam bagian ke-2 kami akan melanjutkan perjalanan kami menyusuri Jalur Sutra Baru, dari Kirgizstan ke Duisburg, Jerman.

Jalur Sutra Baru - Pergerakan Cina ke Barat
Bagian 1 - Dari Cina ke Pakistan
Film karya: Normen Odenthal dan Thomas Reichart

Posting Komentar

0 Komentar