Fakta Dibalik Rahasia Besar Cina Membangun Jalan Sutra Baru (Bagian 1)

Jalur Sutra Cina yang legendaris adalah salah satu keajaiban dunia kuno. Sekarang jalur perdagangan ini dihidupkan kembali.

Jalur Sutra Baru adalah proyek sangat besar, dan menunjukkan kekuatan dan kedigdayaan. Ratusan miliar Euro mengalir ke infrastruktur baru itu - jalur kereta api, pelabuhan, jalan, jembatan dan terowongan, di 65 negara yang berbeda.

Ini adalah proyek yang belum pernah dilihat dunia. Ini adalah visi penuh daya, dan bagi banyak orang, menginspirasi. Bagi sejumlah orang itu mewakili peluang, bagi yang lain, penderitaan.

Jalur Sutra Baru, sebuah bukti ambisi Cina yang dihidupkan kembali di panggung global.

Baru 40 tahun yang lalu, ini adalah pasar di kota nelayan. Hari ini Shenzhen adalah kota besar berteknologi tinggi dengan lebih dari 25 juta jiwa - Silicon Valley Cina.

Kota metropolitan gemerlap penuh dengan kepercayaan diri, adalah wajah Cina yang baru. Dan Cina yang ambisius memandang fokus ke arah Barat. Dan Jalur Sutra Baru akan membawanya ke sana.

Kami menelusuri dua rute melalui darat dan laut, dari kota Shenzhen di Cina, ke kota Duisburg di Jerman.

Apa yang ada di balik ambisi besar Cina ini? Perubahan apa yang sedang berlangsung di sepanjang rute ini? Dan bagaimana proyek ini akan dirasakan di Jerman dan Eropa Barat?


Keterangan: Video ini telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

Rute pertama...

Kami naik kereta dari Shenzhen menuju Barat sepanjang malam. Dalam tidur kami yang gelisah, suara roda di jalur rel seakan menjadi iring-iringan kafilah unta, yang pernah melintasi rute ini. Kereta dijadwalkan tiba di Dunhuang pukul 6.30 pagi. Tapi kami memasuki stasiun setengah jam lebih awal.

Cina mengejutkan banyak orang dengan begitu bersemangatnya mereka membangun akses untuk mencapai wilayah barat.

Ketika fajar merekah di Dunhuang, bukit pasir perlahan-lahan muncul di cakrawala seolah-olah mereka dilahirkan kembali setiap pagi. Seekor kadal mencari kehangatan.

Serbuan turis-turis Cina yang berkunjung ke sini setiap hari, akan segera tiba. Ada juga unta-unta di sini. Dan seperti saat masih menjadi rute perdagangan kuno, unta-unta tersebut menyambut rombongan dengan ketidakacuhan namun tetap tampak sabar.

Dengan turis-turis Cina di atas pelana unta-unta, kafilah bergerak menuju bukit pasir. Bagi wisatawan, ini seperti perjalanan menuju masa lalu yang gemilang, masa ketika Cina adalah kekuatan global.

Berabad-abad yang lalu, para pedagang membawa sutra, batu giok, rempah-rempah dan emas di sepanjang rute ini. Jalur Sutra lama menghubungkan Timur dan Barat dalam rute perjalanan yang penuh bahaya.

Di dalam gua-gua ini, lukisan dinding menyampaikan cerita Jalan Sutra yang lama. Satu gambar menunjukkan pedagang dari Asia Tengah disergap oleh penyamun. Para pedagang berdoa kepada dewa-dewa Buddha dan akhirnya diselamatkan.

Fresko atau lukisan dinding di gua ini merupakan catatan dari rute perdagangan bersejarah. Barang-barang datang dari Samarkand, ada lukisan bergaya Yunani kuno, dan masuknya Buddhisme dari India.

Fan Jinshi memimpin upaya penyelamatan gua-gua ini beserta lukisan dindingnya. Sebuah tugas yang merupakan kebanggaan dalam hidupnya.

[Fan Jinshi, Mantan Direktur Badan Pengelola Gua Mogau di Dunhuang] Perdagangan barter di Jalur Sutra memperkaya seni dan kehidupan di Cina. Hal yang baik untuk saling belajar dan bersikap terbuka. Begitulah seharusnya dunia saat ini juga.

Tapi Dunhuang tidak hanya mengingatkan kembali kebesaran Cina dulu. Itu juga merupakan pengingat akan salah satu penghinaan terbesar di negara ini. Pada awal abad ke-20, kekuatan kolonial Eropa merampok gua-gua dan merampas manuskrip penting dan lukisan gulung, yang sekarang disimpan di museum-museum di seluruh dunia.

[Fan Jinshi] Pada saat itu, dinasti Qing sedang menurun. Karena pemerintah Cina begitu lemah, para peneliti Eropa mengabaikan perintah untuk tidak memindahkan harta-harta dari gua-gua itu.

Bagi Cina, itu adalah upaya pendakian yang sulit - dari objek permainan Barat ke kekuatan global baru, dan sekarang berambisi memperluas jangkauannya ke Barat.

Di Dunhuang terletak fondasi ideologis untuk Jalur Sutra Baru. Keunggulan mereka atas Barat telah dianggap wajar oleh penguasa Cina selama ribuan tahun.

Perjalanan kami berlanjut, mengikuti jalur mega-proyek yang direncanakan Cina untuk diperluas di belahan dunia lain.

Kami melewati Lintasan Gerbang Giok, lintasan yang dulu ada di perbatasan tempat wilayah Cina berakhir, dan wilayah Asia Tengah dimulai. Penyair masa Dinasti Tang, Wang Wei, menulis: "Jika Anda pergi lebih jauh ke barat, Anda tak akan melihat teman lagi."

Rute kedua...

Selama berabad-abad, pelabuhan Cina menjadi gerbang menuju dunia luar. Melalui gerbang itu kami menempuh perjalanan ini. Kami naik ke kapal untuk memulai tahap selanjutnya dari perjalanan di sepanjang Jalur Sutra Maritim.

Pelabuhan itu sangat besar, tapi hanya merupakan salah satu dari pelabuhan besar lainnya di negeri ini. Dari 10 pelabuhan terbesar di dunia, tujuh terdapat di Cina. Sekitar 25 juta kontainer melewati pelabuhan Shenzhen setiap tahun. Berisi barang-barang yang akan berlayar ke seluruh dunia.

Wisatawan Cina juga berbondong-bondong menuju destinasi baru, seperti yang kami temukan pada perhentian pertama kami, kota Sihanoukville di Kamboja. Kote ini menjadi populer bagi orang Cina yang mencari liburan di pantai. Ini adalah surga waktu luang, dengan sinar matahari, laut, dan kesempatan belanja yang terbuka lebar.

Bagi banyak warga setempat, ledakan pariwisata mendadak di Sihanoukville adalah berkah yang sangat beragam. Namun, bagi orang lokal Kamboja seperti Srijön dan Visna mengatakan, mereka sekarang merasa seperti orang luar di rumah mereka sendiri.

[Srijön] Sangat mengerikan dengan semua orang Cina di sini. Mereka berperilaku sangat buruk.

[Visna] Teman-teman kami tak mau lagi datang ke sini. Terlalu banyak orang Cina. Hanya dalam satu tahun, semuanya berubah. Orang-orang Cina telah mengambil alih kota kami.

Tampaknya pengambilalihan sedang berlangsung. Proyek konstruksi Cina mengubah kota itu. Sihanoukville lama, praktis telah disingkirkan. Para pekerja, bahan material, dan rencana untuk proyek-proyek baru semuanya diimpor dari Cina.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Pakar politik Vannarith Chheang adalah satu dari sedikit orang Kamboja yang bersedia berbicara secara terbuka tentang topik ini.

[Vannarith Chheang] Para investor Cina, mereka mungkin menyuap pemerintah lokal untuk mendapatkan lisensi. Untuk memperoleh akses ke peluang investasi tertentu dan sebagainya. Proses penawaran tidak terlalu transparan. Terutama jika itu menyangkut untuk pembuatan proyek infrastruktur. Kami tidak tahu banyak tentang apa yang sedang terjadi.

Orang-orang Cina ada di sini dengan pengaruh kekuatannya, dan penduduk setempat terdesak keluar. Kami bertemu Visna di pusat kota. Ia dulu mengelola sebuah restoran kecil di sini, tapi baru-baru ini dia harus menyerahkan usahanya. Seorang investor Cina sedang membangun hotel di tempatnya.

Harga sewa di pusat kota melonjak. Tetapi harga-harga yang dapat dibayar orang Cina tidak terjangkau bagi penduduk lokal seperti Visna. Setiap orang yang diajaknya bicara, memiliki kabar buruk untuknya.

[Percakapan Visna dengan Pemilik Ruang Usaha] Saya melihat iklan Anda. Berapa harga sewanya? - 30.000 sebulan. - Tidak mungkin saya bisa membayar sewa seperti itu. Belum lagi ditambah biaya air dan listrik. Dan saya masih belum membayar biaya sekolah anak-anak saya. 

Hanya orang Cina yang mampu membayar sewa ini. Segera hanya akan ada restoran Cina untuk pelanggan Cina. Kami orang Kamboja tidak punya kesempatan.

Sihanoukville dulunya adalah tempat yang tidak banyak kegiatan. Itu semua berubah, terutama pada malam hari. Suasana telah berubah di kota ini. Ada lebih banyak narkoba di jalanan, lebih banyak kekerasan, dan rasa tidak nyaman.

Perselisihan memanas di antara penduduk setempat dengan para pendatang dari Cina. Pihak berwenang memilih untuk tidak mengakui situasi secara langsung, tapi mereka telah menempatkan lebih banyak polisi di jalan-jalan.

Di hadapan tim kamera kami, polisi tidak memperlakukan warga setempat dan Cina secara berbeda. Tapi rumor mengatakan bahwa suap kecil dapat membantu menutupi hal-hal yang melanggar peraturan.

[Letkol. Prom Pao, Pejapat Kepolisian Sihanoukville] Kejahatan sedang meningkat, itu benar, tapi kami dapat mengendalikannya dan merespons dengan cepat ketika ada masalah. Orang Kamboja dan Cina tidak saling percaya satu sama lain, tapi itu bukan masalah besar. Kadang-kadang ada perkelahian, beberapa orang Cina mengemudi ketika mereka sedang mabuk.

Seiring dengan makin banyaknya minuman keras, ada banyak perjudian di sini. Berjudi adalah hal ilegal untuk orang Kamboja. Begitu juga untuk orang Cina, tapi hanya di Cina. Jadi sekitar 80 kasino bermunculan dalam semalam di Sihanoukville. Uang dalam jumlah besar berpindah tangan. Sedikit yang mengalir bagi penduduk setempat, ini yang semakin menambah ketegangan.

[Vannarith Chheang] Banyak isu baru yang muncul di Sihanoukville. Ini memicu sentimen nasional terhadap Cina. Dan ini telah menyebar sangat cepat. Karena orang Cina baru di Kamboja, mirip dengan bagian dunia lainnya, mereka tidak beradaptasi dengan budaya lokal. Berbeda dari Cina pada abad ke-18 dan 19, mereka mau belajar bahasa lokal, budaya lokal, dan berintegrasi ke dalam budaya lokal.

Ada tanda-tanda itu di sini. Sihanoukville menjadi latar belakang. Warga lokal hanyalah tambahan, sementara peran utama dimainkan oleh orang Cina. Di sini, mereka menikmati kebebasan yang justru tidak diperolehnya di rumah.

Kembali ke rute pertama...

Di Cina, kehidupan lebih ketat dan lebih diatur. Terutama di wilayah Uyghur. Kota Kashgar dulunya merupakan pusat utama di Jalan Sutra kuno. Bagi para kafilah pedagang, Kashgar adalah titik perhentian bak dongeng.

Marco Polo memuji kota ini dan keindahannya yang luar biasa. Pedagang Kashgar, tulisnya, berkeliling ke seluruh dunia. Mereka melintasi pegunungan Karakorum ke Selatan, dan pegunungan Tian Shan ke Asia Tengah. Kashgar selalu istimewa, dan masih demikian.

Wilayah ini adalah bagian dari Cina, tapi mayoritas penduduknya adalah Uyghur, minoritas Muslim yang sangat dicurigai oleh Beijing.

Di depan salah satu gerbang ke Kota Tua, beberapa orang menampilkan tarian tradisional Uyghur. Ini adalah pertunjukan populer bagi kalangan pengunjung yang datang dari seluruh Cina.

Setelah pertunjukan, kami mendekati salah satu penari dan bertanya apa pendapatnya tentang kota itu. Dia memberi tahu kami bahwa kehidupan baik di sini, tapi kemudian kami diinterupsi. Seorang pria datang dan berdiri di depan kamera kami, untuk menghalangi kami berbicara. Pria tua itu terintimidasi olehnya, dan pergi.

Kosmopolitan kuno Kashgar, telah menjadi kota di mana pengawasan massal adalah norma. Mobil kami diikuti terus-menerus. Polisi dan pasukan keamanan negara memantau setiap langkah kami, dan semua orang yang ingin kami ajak bicara. Para pemimpin Cina menganggap bahwa ekstremis agama mengintai di mana-mana.

Mereka menutup masjid, atau membiarkannya tetap terbuka tetapi hanya sebagai museum. Sejumlah bangunan dari Kota Tua telah dihancurkan, itu akan diikuti lebih banyak lagi. Bagi budaya Uyghur, itu adalah kerugian besar.

Kami pernah di sini dua tahun lalu. Kala itu, pengintaian tersebar luas, tapi kami masih diizinkan untuk syuting di Kota Tua. Sekarang itu terlarang. Saat itu, kami melihat betapa besar perhatian semua pihak jika menyangkut perawatan bangunan tua dari batu bata lumpur.

Kami juga bertemu pengrajin gerabah, yang tinggal dan bekerja di sebuah rumah berusia 400 tahun. Membentuk tanah liat lokal di alat putar, membakarnya di tungku pembakaran, itu adalah keterampilan yang unik dan memiliki tradisi panjang di sini.

[Tursun Zunung, Pengrajin Gerabah] Saya mulai di sini saat saya berusia lima tahun. Hingga saat ini, saya telah melewatkan 50 tahun hidup saya di bengkel ini. Keluarga saya telah melakukan ini selama enam generasi.

Tursun Zunung memberi tahu kami bahwa pemerintah Cina merencanakan untuk menghancurkan bangunan tua di sini, semuanya atas nama kemajuan.

[Tursun Zunung] Ada desas-desus bahwa mereka ingin mengubah distrik. Mereka memberi tahu bahwa saya akan mendapatkan bangunan modern. Saya katakan kepada mereka, itu tidak bisa terjadi. Saya tidak bisa membuat gerabah di gedung modern.

Pada kunjungan ini, kami tidak boleh mengunjungi dia dan keluarganya. Kami tidak tahu apakah rumahnya masih berdiri, atau bagaimana keadaannya dan cucunya - cucu yang ia harapkan akan mengikuti jejaknya.

Ke mana pun kita melihat, kota lama Uyghur sedang dirobohkan untuk membuat jalan bagi Cina yang baru. Organisasi hak asasi manusia memperkirakan hingga satu juta orang Uyghur ditahan dalam apa yang disebut "barak pendidikan ulang." Siapa pun yang berada terlalu dekat dengan salah satu barak, dipaksa berbalik.

Cina sedang menjelajah lebih jauh ke negeri asing, tapi ia khawatir akan pengaruh apa pun yang mereka lihat berbeda atau asing. Negara menginginkan pertukaran barang dan modal secara bebas, tapi tidak dengan orang-orang dan ide. Apa yang terjadi di Kashgar menjadi pertanda buruk bagi rencana Cina di sepanjang Jalan Sutra Baru.


Kembali ke rute kedua...

Cina mencari pasokan yang kurang di negerinya, seperti bahan baku untuk industri yang sangat dibutuhkan di dalam negeri. Keserakahan itu sulit diredam. Di atas kapal yang diisi 15 ribu kontainer, kami melanjutkan perjalanan kami di sepanjang Jalur Sutra Maritim.

Tujuan kami berikutnya adalah Myanmar. Selama beberapa dekade, itu adalah negara tertutup yang menjauhi orang luar. Tapi sekarang negeri ini sudah mulai menarik lebih banyak pengunjung yang tertarik untuk mengeksplorasi apa yang ditawarkan Myanmar - misalnya dari udara.

Hamparan luas yang terbentang di bawah kami bersaksi tentang sejarah yang kaya, sejarah raja-raja kuno dan kerajaan yang hilang. Kami melanjutkan perjalanan dari Bagan di sepanjang sungai Irrawaddy ke Mandalay, kota lain yang penuh dengan sejarah.

Hidup di sini adalah perjuangan. Ko Cho Oo ingin menjual batu ini, untuk harga setara dengan 50.000 Euro. Ini adalah batu giok mentah - sumber daya alam yang diidam-idamkan semua orang.

Myanmar memiliki tambang batu giok terkaya di dunia. Di utara negara itu, penambang batu giok bekerja di bawah kondisi yang sering mengenaskan. Itu tidak penting bagi pembeli di sini. Mereka hanya peduli dengan kualitas batu itu.

[Percakapan antara Ko Cho Oo, penjual batu giok dengan pembelinya] Ada urat hitam di sini! Warnanya tidak cukup hijau. Tidak. Saya tidak suka itu.

[Ko Cho Oo] Mereka keras dalam hal tawar-menawar. Mereka selalu memberi Anda tawaran terendah. Ketika saya meminta 100 ribu, mereka menawarkan paling banyak 20 ribu. Dan mereka tidak akan lebih tinggi dari 30 ribu. Mereka tidak pernah kalah. Mereka selalu menang. Begitulah adanya. Kami kalah, mereka menang.

Dengan "mereka," maksudnya adalah orang Cina. Pasar batu giok Mandalay ada di tangan Cina, dari batu mentah hingga perhiasan jadi. Giok telah menjadi bagian penting dari budaya Cina selama ribuan tahun.

Ko Cho Oo adalah seorang perantara. Ia tidak akan mengungkap siapa yang mengirimnya, atau berapa banyak yang ia dapatkan dari kesepakatan. Dia mencoba dengan penjualan kedua, kali ini dengan cincin. Tapi di sini pun, dia berbalik.

Pembeli Cina biasanya beroperasi sebagai perantara juga. Pelanggan sebenarnya berada di negeri asalnya, di Cina. Kelas menengah Cina yang sedang naik daun, haus akan simbol status. Tawarannya datang lewat smartphone. Perdagangan online adalah bisnis yang menguntungkan. 

[Pedagang perantara dari Cina] Kami memiliki tautan langsung ke Cina. Itu bagus, karena orang-orang online tidak tahu banyak soal batu giok, dan tidak bisa menilai kualitas. Kami membawa batu giok bersama kami ketika kami terbang pulang. Tapi pajaknya tinggi, dan itu dikurangi dari laba kami. Jika kami mengenakan kalung atau cincin saat tiba, kami tidak perlu membayar pajak apa pun.

Ko Cho Oo akhirnya berhasil menjual sebuah kalung. Tapi ia memiliki rasa galau terkait bisnis itu.

[Ko Cho Oo] Tentu saja itu menyedihkan. Kami menjual harta kekayaan negara kami, tapi tidak ada cara lain. Mereka sangat kuat, dan kami lemah. Kami perlu uang. Dan orang Cina punya uang.

Di Cina, giok atau jade adalah simbol keberuntungan. Ketika kita menyaksikan perdagangan giok ini, tampak seolah-olah nasib baik meninggalkan Myanmar ke pantai yang lebih makmur.

Kami pergi ke utara ke bukit Kachin. Tempat ini kaya akan tambang batu giok dan sumber daya lainnya, yang sangat dicari oleh tetangga kuat Myanmar. Seluruh desa telah dipindahkan dan kehidupan penduduk setempat terganggu.

Itulah yang terjadi pada Daw Ja. Ia menyeduh minuman tradisional yang diyakini dapat menangkal pilek, keluhan menstruasi, dan impotensi. Tapi itu tidak banyak gunanya melawan situasi Daw Ja saat ini.

[Daw Ja] Tidak ada obat yang bisa mengatasi masalah ini. Jika kami punya obat yang bisa atasi itu, percayalah, saya akan menyeduhnya setiap hari. Dan saya akan memberikannya kepada semua orang, gratis. Tapi tidak sesederhana itu.

Saat ini penduduk setempat tengah melancarkan gerakan protes. Tanda dan poster mereka bertuliskan "No Dam!" (Tidak Ada Bendungan). Cina telah mendukung pembangunan proyek bendungan besar di dekat sumber sungai Irrawaddy. Banyak warga setempat menentangnya.

[Daw Ja] Sungai Irrawaddy adalah alur kehidupan kami.Seolah-olah darah kami sendiri mengalir melaluinya. Sungai ini harus bertahan hidup. Tak seorang pun yang boleh untuk menghancurkannya. Kami berjuang untuk sungai, dan untuk diri kami sendiri.

Perlawanan mereka ditujukan pada struktur beton dan baja sangat besar yang muncul dari air. Ini tahap pertama dari apa yang akan menjadi proyek bendungan besar, 90 persen dari tenaga listrik yang dihasilkan oleh bendungan itu akan diekspor ke negara tetangga Cina. Biaya proyek sangat besar.

Karena menghadapi oposisi yang keras, pemerintah Myanmar akhirnya setuju untuk menunda proyek ini. Hal yang sangat mengecewakan Beijing. 

Seluruh desa Daw Ja dipindahkan untuk memberi jalan bagi bendungan. Mereka kembali untuk melihatnya. Rasa sakit yang dirasakan karena dipaksa meninggalkan rumah masih segar di ingatan mereka. 

[Daw Ja] Di sinilah kami tinggal, dari satu generasi ke generasi berikutnya turun-temurun, dalam damai dan ketenangan. Lalu mereka membuat kami pergi. Mereka masih tidak membiarkan kami kembali, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada proyek itu. Saya khawatir kami tidak akan pernah diizinkan untuk kembali. Orang Cina tidak akan menyerah sampai mereka mendapat bendungan mereka. Suatu hari semua ini akan berada di bawah air, dan lenyap selamanya.

Cina adalah kekuatan ekonomi besar. Negara ini memiliki pengaruh keuangan yang sangat besar - dan uang menimbulkan pengaruh politik. Sulit bagi negara-negara miskin untuk mempertahankan kepentingan mereka. 

Sri Lanka adalah contoh kasus lainnya.

Sekilas, semua tampak damai di resort pantai ini. Dengan angin sepoi-sepoi datang dari Samudra Hindia, hari-hari tampaknya berlalu dengan tempo yang santai.

Di tempat lainnya, Chaminda Pushpa Kumare sedang berjalan melewati perkebunannya. Ia sudah lama menjadi petani melon. Tapi dia juga terpaksa pindah.

[Chaminda Pushpa Kumare] Saya ada di tengah hutan. Ini di mana saya seharusnya mengolah ladang saya. Di tengah lahan yang dulu dianggap antah berantah ini. Saya dulu memiliki sebidang lahan yang bagus, sekarang itu menjadi pelabuhan.

Hidupnya telah menjadi berantakan, bersama dengan banyak lainnya yang dulu tinggal di Hambantota. Sebuah proyek perluasan pelabuhan menelan tanah pertanian mereka. Penduduk desa protes, tetapi tidak ada hasil. Dan janji-janji pemberian kompensasi bagi mereka, tidak ada wujudnya.

[Chaminda Pushpa Kumare] Mereka tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepada kami. Mereka mengambil tanah kami dan berkata kami akan mendapat pekerjaan di pelabuhan. Tetapi orang Cina tidak punya pekerjaan untuk kami para petani. Mereka hanya memiliki pekerjaan untuk orang-orang mereka sendiri. Mereka memegang kendali di sini sekarang.

Sri Lanka memiliki banyak utang. Ini memberi Cina kendali atas pelabuhan Hambantota dengan masa sewa 99 tahun. Sebagai gantinya, Cina membatalkan utang senilai 1,1 miliar dolar. 

Kesepakatan itu kontroversial, dan penuh dengan rumor. Ada yang mengatakan Beijing berencana membangun pangkalan militer di lokasi yang strategis ini. Kami tidak bisa mengetahui lebih jauh tentang apa yang terjadi di pelabuhan. Pos pengunjung baru-baru ini dinyatakan terlarang bagi orang asing.

[Percakapan antara reporter DW dengan petugas keamanan] Selamat pagi Pak. Dapatkah kami pergi ke spot untuk melihat kegiatan? Maaf, kami lihat di sana ada spot untuk melihat kegiatan. - Tapi tanpa kamera. - Oke.

Pelabuhan itu besar tetapi tidak sesibuk yang diharapkan Cina. Itu sebabnya dikeluarkan perintah baru, yang menciptakan lapangan kerja. Setiap mobil yang diimpor oleh Sri Lanka harus masuk melalui pelabuhan Hambantota. Meskipun lokasi tujuannya berada di sisi lain negara itu.

Satu orang berperan besar di belakang ini: Mahinda Rajapaksa. Selama menjabat sebagai presiden Sri Lanka, ia mempromosikan kesepakatan dengan Cina. Rajapaksa lahir di sebuah kota kecil di distrik Hambantota. Ia menggagas banyak proyek infrastruktur mahal dengan sedikit pertimbangan jangka panjang. 

Sekarang distrik rumahnya memiliki jalan bebas hambatan, namun hampir tidak ada lalu lintas di sana. Dan jalan-jalan yang hanya bisa diimpikan daerah lain di negara itu, tapi kenyataannya lebih banyak ternak daripada kendaraan di atasnya. Ada gedung konferensi yang berdiri tidak digunakan. Dan rumah sakit tanpa dokter atau pasien. Semua dibayar dengan pinjaman dari Cina.

Aruna Kulatunga telah mempelajari situasi ini selama bertahun-tahun. Dia kecewa terhadap apa yang telah dilakukan Sri Lanka.

[Aruna Kulatunga, Pengamat Politik] Misalnya, mereka memberi kami pinjaman katakanlah 100 Rupee. Dan mereka mengambil lagi 90 Rupee dari itu untuk mereka sendiri, ditambah lagi kami harus membayar bunga. Itu seperti saya pergi ke bank, saya mengambil pinjaman dan bank memberi tahu saya: Lihat, saya akan beri Anda 100 Rupee. Tapi Anda harus bangun rumah Anda sesuai dengan ini, ini dan ini. Anda harus membeli semua batu bata dari saya. Anda harus mengambil orang-orang saya dan menggunakannya sebagai tukang batu, dan apa pun. Itu yang terjadi. Dan mereka menarik bunga 12 persen di atas itu juga. Jadi ini bukan bisnis yang adil.

Proyek-proyeknya besar dan bergengsi. Tapi itu tidak lebih dari sekedar pemanis kartu nama. 

Pria ini adalah manajer dari apa yang disebut 'bandara internasional paling kosong di dunia.' Juga dibangun dengan bantuan pinjaman besar dari Cina. Semuanya baru di sini. Ini jarang digunakan. Kami belum pernah melihat bandara seperti ini sebelumnya. Tidak ada antri di loket check-in. Tidak ada kekacauan di pengambilan bagasi. Tidak ada kerumunan orang. Bepergian di bandara ini bisa menjadi pengalaman yang rileks - jika ada penerbangan yang menuju ke sini.

[Chamath Somathilake, Manajer Bandara] Ini telah dibangun untuk kapasitas satu juta penumpang per tahun. Dan itu bisa ditambah dalam beberapa tahun.

[Reporter DW] Tapi kami tidak melihat penumpang?

[Chamath Somathilake] Ya, sampai sekarang kami menggunakan bandara ini jika ada keadaan darurat di ibu kota. Dan di masa depan, akan ada penerbangan terjadwal.

Mereka telah menunggu dengan sabar sejak bandara dibuka pada tahun 2013. Ini adalah drama yang absurd, yang masih menunggu peluang untuk akhir permainan yang menguntungkan Cina. Bandara ini dapat segera mengikuti jejak pelabuhan laut sebelumnya. Utang kepada Cina adalah batu giling di leher Sri Lanka, dan sekarang mereka mencari investor asing untuk mengambil alih.

[Aruna Kulatunga] Mereka tidak memberi apa pun kepada kami, tidak seperti yang mereka katakan bahwa mereka hanya ingin membantu Sri Lanka. Tidak. Mereka jelas bersifat komersial, ditambah minat khusus di sana. Jadi masalahnya, apa yang bisa kami lakukan? Kami memerlukan uang tunai, kami memerlukan investasi, dan tidak ada yang datang.

Sri Lanka telah menjadi simpang jalan bagi pemain ekonomi utama dunia. Dan itu berdampak besar terhadap kehidupan rakyatnya.


Kembali ke rute pertama...

Jalan Sutra Baru terus melaju dengan langkah cepat. Bahkan memotong jalur menembus pegunungan tertinggi di dunia. Kami pergi ke Jalan Raya Karakorum di Pakistan. Berada lebih dari 4.600 meter di atas permukaan laut, Khunjerab Pass terletak di perbatasan antara Pakistan dan Cina.

Gerbang perbatasan sepertinya bisa menjadi bagian dari Tembok Besar Cina - tetapi letaknya sangat jauh. Bagaimana pun, perbatasan di sini meniupkan suasana yang seakan tidak bisa ditembus.

Kami membandingkan waktu jam tangan kami. Jam tangan saya menunjukkan waktu Pakistan. Para tentara Cina berada di zona Waktu Standar Cina. Selisih tiga jam, hanya terpaut beberapa langkah.

Keamanan di sini ketat. Cina percaya negara itu harus melindungi diri terhadap ekstremisme Islam dari Pakistan. Tapi pejabat Cina di sini melintasi perbatasan sebagai hal yang biasa.

[Petugas Bea Cukai Cina] Ini bukan wewenang kami.

Agak tidak masuk akal, pejabat bea cukai Cina menyatakan proses itu bukan tanggung jawabnya. Para VIP Cina tidak ingin diambil film atau pun fotonya. Seolah-olah kami masih di Cina. Pejabat itu juga menolak memberi wawancara.

Truk Cina berikutnya yang kembali dari Pakistan, tidak akan tiba sampai sore. Ini seharusnya menjadi gerbang pada rute perdagangan utama - tapi Jalan Sutra Baru tampaknya tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

[Li Song, supir truk Cina] Kami tidak membawa barang apa pun kembali. Mereka tidak punya apa-apa. Biasanya truk kami kosong ketika kami kembali ke Cina.

Pada perjalanan ke Pakistan, kontainar Li Song penuh dengan pakaian dan elektronik. Sekarang itu kosong. Itu adalah rute yang berisiko untuk hasil sekecil itu.

[Li Song] Ada tempat-tempat berbahaya. Ada belokan sangat tajam di sepanjang jalan di mana kontainer kami menyusuri tebing-tebing curam. Dan kadang-kadang ada batu yang jatuh. Itu berbahaya.

Bagian sisi truk menunjukkan tanda betapa berbahayanya Jalan Raya Karakorum. Truk itu melanjutkan perjalanan ke Cina. Kami tetap di Pakistan.

Kami mendapat pengawalan polisi saat kami melanjutkan ke situs konstruksi besar. Kami adalah kru televisi Barat pertama yang diizinkan untuk membuat film di sini. Ini adalah perjalanan panjang melalui lanskap yang indah, tapi berbahaya.

Cina dan Pakistan telah membangun jalan ini sejak sekitar 10 tahun lalu. Tetapi tidak jelas tujuan apa yang akan dilayaninya. Beberapa truk kosong, sulit mencari alasan untuk proyek pembangunan raksasa ini. Itu adalah jalan yang sangat lengang di Jalur Sutra Baru.

Pegunungan Karakorum juga tampaknya lebih suka dirinya terisolasi. Batu yang jatuh sering merusak jalan, yang kemudian harus diperbaiki. Pada Januari 2010, tanah longsor besar-besaran menewaskan 20 orang di desa Attabad. Itu memblokir sungai Hunza, menciptakan danau besar. Sebagian jalan raya Karakorum akhirnya tenggelam di bawah batu dan air. Jalan raya dialihkan, melalui pegunungan.

Sebelum berangkat untuk menyeberangi Pegunungan Alpen dengan pasukan gajahnya, Hannibal dari Kerajaan Kartago di Tunisia sekarang, konon pernah berkata, "Aku akan menemukan jalan atau aku akan membangunnya." Tujuannya adalah menaklukkan Roma.

Apakah Jalan Sutra Baru bagian dari rencana era modern untuk penaklukan Roma ala Hannibal?

Pada masa lalu, hanya pelancong yang paling berani yang mencoba untuk melintasi pegunungan Karakorum. Bahkan kini pun, waktu tampaknya tidak bergerak di desa-desa terpencil di lembah Hunza. Banyak tradisi lama tetap dilestarikan di sini. Tapi penduduk desa khawatir bahwa ketika jalan raya selesai, cara hidup mereka akan terancam.

Kami tidak melihat banyak perdagangan di sepanjang rute ini. Dan apa yang kami lihat lebih mengingatkan kafilah-kafilah pada masa Jalan Sutra kuno. Ada beberapa truk di jalan. Banyak yang dilukisi dan didekorasi, seperti kebiasaan di sini.

Jalan itu menelan biaya yang sangat tinggi. Pakistan berutang besar kepada bank-bank Cina dan perusahaan konstruksi Cina.

Tetapi Cina juga membayar harganya. Pemakaman ini adalah makam pekerja Cina, yang meninggal di lokasi konstruksi. Ini mengingatkan pada pemakaman militer - ternyata para pekerja ini adalah tentara Cina.

Apakah itu pertanda lainnya bahwa proses penaklukan sedang berlangsung?

Setelah perjalanan 600 km kami akhirnya mencapai lokasi konstruksi, tempat bentangan jalan berikutnya sedang dibangun menembus pegunungan. Bor pada dinding gunung untuk penghancuran batu terdengar sangat keras, tapi tidak ada pekerja yang mengenakan pelindung telinga. Mungkin itu bukan hal yang perlu dikuatirkan bagi mereka. Terowongan itu tidak stabil, dan bahaya batu yang runtuh selalu ada.

[Wang Hui, Perusahaan Jalan dan Jembatan Cina] Saya sering sulit tidur, terutama ketika sesuatu yang tidak terduga telah terjadi. Maka saya tidak bisa tidur. Hal yang sama berlaku bagi semua orang di sini di lokasi konstruksi, dan bos kami di Beijing.

Ada 7.000 orang Pakistan bekerja di sini dan 1.200 orang Cina. Ada makanan Cina di kantin, dan televisi pemerintah Cina. Tetapi keluarga mereka berada ribuan kilometer jauhnya, dan koneksi internet tidak dapat diandalkan.

[Percakapan pekerja Cina dengan keluarganya di tanah air] Halo. Apa kamu belum tidur? Bisakah kamu mendengar saya? Koneksinya buruk.

[Pekerja Cina] Tentu saja saya merindukan rumah saya, tapi kami tidak punya pilihan. Saya tidak bisa pulang sampai selesai di sini.

Para manajer yang mengawasi proyek konstruksi yang sangat besar ini tinggal dan bekerja di bekas hotel. Lokasi itu telah berubah menjadi benteng. Pemerintah Pakistan mengkhawatirkan keselamatan orang Cina, sehingga security diperketat.

Pagi harinya, kami bertemu Wang Hui, kepala insinyur. Dia telah mengerjakan proyek ini selama sepuluh tahun sekarang.

Konfusius berkata: Orang yang memindahkan gunung memulainya dengan membawa batu-batu kecil. Itulah yang dituntut Beijing dari Wang Hui - hari demi hari.

[Wang Hui] Bagi kami proyek ini berpacu melawan waktu. Kami hampir tidak mendapat istirahat. Kami bekerja dari pagi hingga pukul 11 malam, dan tidak pernah mendapat hari libur.

Wang Hui ingin menunjukkan kepada kami situs konstruksi khusus. Di sinilah kami akhirnya menyadari mengapa Cina sibuk membuat jalan menembus pegunungan. Mereka sedang membangun koridor melalui Pakistan.

Pimpinan insinyur membawa kami ke sebuah jembatan besar, 60 meter di atas tanah. Bagian jembatan yang diangkut ini berbobot 140 ton. Jembatan ini akan menjadi bagian dari jalan baru. Sepotong demi sepotong, jembatan demi jembatan, Cina mendekati tujuannya: akses langsung ke Laut Arab.

Sama seperti Kekaisaran Romawi yang mengonsolidasikan kekuatannya dengan jalan-jalan imperialnya, Cina membangun kekaisarannya sendiri, dengan jalur ini.

Pemandangan dari ketinggian ini memusingkan. Seperti rencana untuk membangun jalan di atas beberapa gunung tertinggi di Bumi.

[Wang Hui] Kelak akan saya tunjukkan ke putra dan putri saya di mana saya berjuang dan menderita. Saya yang membangun jalan ini. Saya akan sangat bangga.

Cina bertekad untuk terus maju, semakin jauh ke Barat. Ribuan kilometer masih menanti di depan kami, dan ribuan mil laut sampai ke Eropa.

Ketika Jalur Sutra Baru meluas semakin jauh ke Barat, itu memunculkan harapan sekaligus memicu protes.

Dalam bagian ke-2 kami akan melanjutkan perjalanan kami menyusuri Jalur Sutra Baru, dari Kirgizstan ke Duisburg, Jerman.

Jalur Sutra Baru - Pergerakan Cina ke Barat
Bagian 1 - Dari Cina ke Pakistan
Film karya: Normen Odenthal dan Thomas Reichart

Posting Komentar

0 Komentar