Kecerdasan Buatan dalam Mobil Otonom Tanpa Pengemudi

Mobilitas adalah bidang lain, di mana AI memperkuat lajunya inovasi. Dalam waktu dekat, itu dapat menempatkan mobil otonom di jalanan kota. Tetapi seberapa realistiskah visi ini?

Kami berkunjung ke Boston, ke Massachusetts Institute of Technology yang bergengsi. Sertac Karaman adalah pakar terkemuka di bidang mobil otonom atau tanpa pengemudi. Ia dan timnya sedang mengerjakan prototipe kendaraan otonom.


Keterangan: Video ini telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

[Sertac Karaman] Saya pikir kami telah memlengkapi beberapa item dengan komputer dan mesin. Salah satunya adalah semua pemetaan ini, dan lokalisasi, semua teknologi bekerja dengan sangat baik. Komputer bisa mengetahui di mana mereka berada, dengan ketelitian sentimeter, kadang-kadang dalam milimeter. Jauh lebih dari yang dibutuhkan untuk mengemudi. Komputer tidak dapat melihat sekeliling dan memahami di mana orang lain berada. Tapi bukan itu yang dibutuhkan untuk mengemudi.

[Sertac] Yang benar-benar diperlukan adalah memahami apa yang akan terjadi selanjutnya. Dalam tiga detik berikutnya, lima detik, menit berikutnya, bahkan mungkin jam berikutnya. Dan itulah bagian kunci yang hilang. Dan saya pikir masalah yang ada pada saat ini adalah sangat sulit bagi Anda untuk menjelaskan kepada saya, bagaimana Anda mengerti apakah seseorang akan menggunakan trotoar atau akan menggunakan penyeberangan
dan menyeberang jalan. 

[Sertac] Kadang-kadang Anda melihat pada wajah seseorang dan impresi wajah memberi petunjuk, dan Anda akan melambat. Kadang-kadang tidak. Mereka mungkin melihat ke arah yang sama, mereka mungkin berdiri di lokasi yang sama, dengan hanya sedikit impresi wajah, mungkin hanya cara mereka berdiri. Dan sayangnya intuisi semacam itu, firasat dan sebagainya, sangat sulit bagi kami untuk memprogramnya ke dalam komputer.

Itu berfungsi di lingkungan laboratorium yang sederhana. Tapi dalam lingkungan nyata, algoritma masih benar-benar kewalahan. Tapi bukan berarti itu menghalangi pembuat iklan...


Tes mengemudi kami tidak lain dari serangkaian gangguan. Berhenti darurat yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya... dan satu lagi pada upaya kedua. Sensor pada kendaraan ini kewalahan menghadapi pejalan kaki itu. Dan di sini, mobil pintar mengabaikan mobil yang membelok ke jalur kami.

Berbicara dengan para insinyur MIT, akirnya menjadi jelas, bahwa untuk membangun mobil yang mengemudi sendiri, pengembang perlu memenuhi skala besar persyaratan teknis.

[Sertac Karaman] Apa yang saya pikir tentang mobil yang sepenuhnya otonom, saya kira saya akan sangat terkejut jika itu dapat terjadi dalam kurang dari 10 tahun. Namun, saya akan sangat terkejut, saya orang yang memiliki kepercayaaan tinggi, saya akan sangat terkejut jika itu tidak terjadi dalam 20-30 tahun.

[Sertac] Saya pikir itu akan terjadi pada suatu saat. Tapi saya berpikir bahwa orang masih meremehkan kondisinya saat ini, untuk membuat mobil Anda sepenuhnya otonom dalam setiap kondisi, setiap keadaan, setiap hal. Itulah adalah bagian yang sangat sulit.

Mengemudi bukanlah proses sepele seperti yang mungkin Anda pikirkan. Dan itu karena Anda terus harus memerhatikan apa yang terjadi di sekitar Anda. Pengendara sepeda, pejalan kaki, kadang-kadang Anda harus menebak-nebak, apakah seseorang ingin menyeberang jalan atau tidak? Sulit membayangkan semua itu dikalkulasi secara otomatis.

Kendaraan yang bisa mengemudi sendiri harus bisa mengatasi semua hal ini juga. Ini saya sedang menghadapi truk yang memutar. Saya mungkin harus mundur sekarang, jika dia tidak berhasil memutar.

Apakah dia ingin menyeberang jalan atau tidak? Sejumlah orang bahkan jalan saja langsung. Mobil yang sepenuhnya otonom adalah impian yang jauh, tapi sistem asisten pengemudi yang sudah berkembang saat ini sudah membuat jalan kita lebih aman.

Sebuah kecelakaan, direkam videonya dari mobil yang dilengkapi dengan asisten rem darurat. Urutan peristiwa dapat dilihat dalam gerakan lambat. Mobil merah di depan tidak melihat kemacetan yang ada di depannya. Tidak ada lampu rem yang tampak, tapi sensor pendeteksi jarak di mobil ini mencatat kemacetan, mengerem, dan mencegah tabrakan lebih lanjut.

Tapi prinsip mana yang harus memandu keputusan yang dibuat oleh teknologi dalam situasi kecelakaan?

Selama beberapa tahun terakhir, MIT Media Lab, telah menangani pertanyaan etis yang muncul dengan adanya kecerdasan buatan. Kompas moral apa yang harus dirujuk oleh piranti cerdas di masa depan?


Iyad Rahwan adalah salah satu pakar terkemuka dunia tentang masalah seperti itu. Ia dan timnya mengembangkan survei yang disebut Mesin Moral, untuk mengeksplorasi etika guna pemrograman kendaraan otonom - seperti jika terjadi kecelakaan.

[Iyad Rahwan] Sebagian besar waktu, orang tidak ingat apa pun, dan orang tidak punya waktu untuk bereaksi. Semuanya terjadi dengan sangat cepat, jadi mereka hanya terkejut, mungkin mereka melihat sesuatu di depannya dan mereka hanya berbelok ke arah yang kebetulan, atau mungkin mereka hanya panik dan menginjak rem.

[Iyad] Jadi, Anda tidak dapat mengharapkan manusia untuk melakukan "hal yang benar." Dalam skala waktu yang kecil. Kecuali mereka membuat keputusan sebelumnya, seperti apakah mereka minum alkohol dan mengemudi, atau apakah mereka tahu mereka akan melewati lampu merah, maka Anda dapat menyalahkan mereka, tapi jika tidak, Anda tidak bisa menyalahkan manusia.

[Iyad] Tetapi dengan mesin, karena kecepatan elektronik, karena mobil otonom mengevaluasi keadaan lingkungan jutaan kali per detik, maka waktu berjalan lebih lambat untuk mesin dan mereka mampu menghitung ulang situasi dan mungkin menghitung ulang strategi.

Dan di sinilah kita dapat membuat penilaian yang berpotensi lebih baik daripada pilihan acak yang digunakan manusia dalam situasi ini. Nah "pemikiran lebih baik" ini adalah pertanyaan yang sangat menarik namun tidak terlalu jelas. Mari kita lihat kasus, di mana kita memiliki orang versus orang.

[Iyad Rahwan] Jadi sekarang kita ada kasus, kendaraan yang memiliki dua orang di dalamnya. Dan itu harus berbelok dan menabrak penghalang, sehingga orang akan tewas di dalam mobil, atau mobil akan lurus dan membunuh pejalan kaki, yang menyeberang secara ilegal, yang adalah wanita, dan orang-orang di mobil adalah laki-laki. Jadi sekarang situasi menjadi sangat rumit dengan sangat cepat.

[Iyad] Haruskah Anda memprioritaskan wanita daripada pria, atau haruskah semua orang sama, haruskah Anda memprioritaskan pejalan kaki daripada penumpang? Jika Anda mempertimbangkan bahwa orang-orang menyeberang secara ilegal dalam kasus ini. Jadi seperti yang Anda lihat, ketika Anda memiliki beberapa dimensi,
menjadi tidak jelas, apa hal yang benar untuk dilakukan.

A atau B? Siapa yang harus mati? Wanita lebih tua yang menyeberang saat rambu merah? Atau anak di dalam mobil? Pilihan apa yang harus dilakukan algoritma AI?

Survei Iyad menyajikan berbagai skenario, masing-masing dengan dilema uniknya sendiri. Responden diminta untuk memilih bagaimana algoritma harus memutuskan.

[Iyad Rahwan] Jadi sebagai hasilnya, kami memiliki 40 juta keputusan, dan masih dihitung, dari orang-orang di seluruh dunia, dan itu memungkinkan kami untuk mulai menganalisis apa yang disepakati orang, tapi juga bagaimana perbedaannya?

Jadi, apakah ada pengaruh budaya pada penilaian moral kita?

[Iyad Rahwan] Orang-orang cenderung selalu setuju untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, menyelamatkan anak-anak, menyelamatkan orang yang menyeberang secara legal, lebih daripada orang yang tidak menyeberang secara legal, dsb. Bagian yang paling menarik adalah Anda dapat memilih negara, seperti Jerman, Anda bisa lihat bagaimana mereka dibanding rata-rata global.

[Iyad] Anda bisa melihat... misalnya di Jerman mereka lebih memilih tidak bertindak. Jadi jika Anda tidak harus memutuskan, Anda lebih suka langsung saja. Jangan ambil keputusan.

Ini berarti orang Jerman tidak suka mengambil keputusan?

[Iyad Rahwan] Ya.

Orang Jerman tidak suka membuat keputusan. "Augen zu und durch!" Tutup mata Anda dan jalan. Jalan saja. Jadi ini berarti, dengan kata lain, Anda bisa melihat penerimaan teknologi dalam mengambil keputusan. Mobil berjalan lurus. Oke. Takdir!

Perbandingan antara Jerman dan Perancis mengungkapkan perbedaan budaya. Orang Perancis cenderung ingin menyelamatkan wanita dan ada fokus yang lebih kuat pada anak-anak.

Dan berlawanan dengan orang Jerman, orang Perancis tidak ingin membiarkan banyak hal pada takdir, mereka ingin mesin membuat keputusan.

[Iyad Rahwan] Mesin itu adalah semacam cermin. Untuk pertama kalinya sesuatu yang Anda lakukan secara bawah sadar atau mungkin secara instinktif, dalam kasus kecelakaan, Anda hanya bertindak secara kebetulan, sekarang Anda harus membuat pilihan yang sadar, dan mesin memaksa Anda untuk membuat pilihan, betul? Anda tidak dapat menyerahkan pada kebetulan, karena pada akhirnya Anda harus memprogram sesuatu.

Mobil tanpa pengemudi belum siap untuk turun di jalan raya dan masih banyak masalah implikasi etis.

Source: DW Documentary. Film karya Tilman Wolff dan Ranga Yogeshwar. 

Posting Komentar

0 Komentar