Nasib Bangsa Uyghur di Tengah Ambisi Pembangunan Jalan Sutra Baru Cina

Di Cina, kehidupan lebih ketat dan lebih diatur. Terutama di wilayah Uyghur. Kota Kashgar dulunya merupakan pusat utama di Jalan Sutra kuno. Bagi para kafilah pedagang, Kashgar adalah titik perhentian bak dongeng.

Marco Polo memuji kota ini dan keindahannya yang luar biasa. Pedagang Kashgar, tulisnya, berkeliling ke seluruh dunia. Mereka melintasi pegunungan Karakorum ke Selatan, dan pegunungan Tian Shan ke Asia Tengah. Kashgar selalu istimewa, dan masih demikian.

Wilayah ini adalah bagian dari Cina, tapi mayoritas penduduknya adalah Uyghur, minoritas Muslim yang sangat dicurigai oleh Beijing.

Di depan salah satu gerbang ke Kota Tua, beberapa orang menampilkan tarian tradisional Uyghur. Ini adalah pertunjukan populer bagi kalangan pengunjung yang datang dari seluruh Cina.

Setelah pertunjukan, kami mendekati salah satu penari dan bertanya apa pendapatnya tentang kota itu. Dia memberi tahu kami bahwa kehidupan baik di sini, tapi kemudian kami diinterupsi. Seorang pria datang dan berdiri di depan kamera kami, untuk menghalangi kami berbicara. Pria tua itu terintimidasi olehnya, dan pergi.


Keterangan: Video ini telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

Kosmopolitan kuno Kashgar, telah menjadi kota di mana pengawasan massal adalah norma. Mobil kami diikuti terus-menerus. Polisi dan pasukan keamanan negara memantau setiap langkah kami, dan semua orang yang ingin kami ajak bicara. Para pemimpin Cina menganggap bahwa ekstremis agama mengintai di mana-mana.

Mereka menutup masjid, atau membiarkannya tetap terbuka tetapi hanya sebagai museum. Sejumlah bangunan dari Kota Tua telah dihancurkan, itu akan diikuti lebih banyak lagi. Bagi budaya Uyghur, itu adalah kerugian besar.

Kami pernah di sini dua tahun lalu. Kala itu, pengintaian tersebar luas, tapi kami masih diizinkan untuk syuting di Kota Tua. Sekarang itu terlarang. Saat itu, kami melihat betapa besar perhatian semua pihak jika menyangkut perawatan bangunan tua dari batu bata lumpur.

Kami juga bertemu pengrajin gerabah, yang tinggal dan bekerja di sebuah rumah berusia 400 tahun. Membentuk tanah liat lokal di alat putar, membakarnya di tungku pembakaran, itu adalah keterampilan yang unik dan memiliki tradisi panjang di sini.

[Tursun Zunung, Pengrajin Gerabah] Saya mulai di sini saat saya berusia lima tahun. Hingga saat ini, saya telah melewatkan 50 tahun hidup saya di bengkel ini. Keluarga saya telah melakukan ini selama enam generasi.

Tursun Zunung memberi tahu kami bahwa pemerintah Cina merencanakan untuk menghancurkan bangunan tua di sini, semuanya atas nama kemajuan.


[Tursun Zunung] Ada desas-desus bahwa mereka ingin mengubah distrik. Mereka memberi tahu bahwa saya akan mendapatkan bangunan modern. Saya katakan kepada mereka, itu tidak bisa terjadi. Saya tidak bisa membuat gerabah di gedung modern.

Pada kunjungan ini, kami tidak boleh mengunjungi dia dan keluarganya. Kami tidak tahu apakah rumahnya masih berdiri, atau bagaimana keadaannya dan cucunya - cucu yang ia harapkan akan mengikuti jejaknya.

Ke mana pun kita melihat, kota lama Uyghur sedang dirobohkan untuk membuat jalan bagi Cina yang baru. Organisasi hak asasi manusia memperkirakan hingga satu juta orang Uyghur ditahan dalam apa yang disebut "barak pendidikan ulang." Siapa pun yang berada terlalu dekat dengan salah satu barak, dipaksa berbalik.

Cina sedang menjelajah lebih jauh ke negeri asing, tapi ia khawatir akan pengaruh apa pun yang mereka lihat berbeda atau asing. Negara menginginkan pertukaran barang dan modal secara bebas, tapi tidak dengan orang-orang dan ide. Apa yang terjadi di Kashgar menjadi pertanda buruk bagi rencana Cina di sepanjang Jalan Sutra Baru.

Jalur Sutra Baru - Pergerakan Cina ke Barat
Bagian 1 - Dari Cina ke Pakistan
Film karya: Normen Odenthal dan Thomas Reichart

Posting Komentar

0 Komentar