Myanmar yang Tak Mampu Membendung Serbuan Ekonomi Cina

Cina mencari pasokan yang kurang di negerinya, seperti bahan baku untuk industri yang sangat dibutuhkan di dalam negeri. Keserakahan itu sulit diredam. Di atas kapal yang diisi 15 ribu kontainer, kami melanjutkan perjalanan kami di sepanjang Jalur Sutra Maritim.

Tujuan kami berikutnya adalah Myanmar. Selama beberapa dekade, itu adalah negara tertutup yang menjauhi orang luar. Tapi sekarang negeri ini sudah mulai menarik lebih banyak pengunjung yang tertarik untuk mengeksplorasi apa yang ditawarkan Myanmar - misalnya dari udara.

Hamparan luas yang terbentang di bawah kami bersaksi tentang sejarah yang kaya, sejarah raja-raja kuno dan kerajaan yang hilang. Kami melanjutkan perjalanan dari Bagan di sepanjang sungai Irrawaddy ke Mandalay, kota lain yang penuh dengan sejarah.

Hidup di sini adalah perjuangan. Ko Cho Oo ingin menjual batu ini, untuk harga setara dengan 50.000 Euro. Ini adalah batu giok mentah - sumber daya alam yang diidam-idamkan semua orang.

Myanmar memiliki tambang batu giok terkaya di dunia. Di utara negara itu, penambang batu giok bekerja di bawah kondisi yang sering mengenaskan. Itu tidak penting bagi pembeli di sini. Mereka hanya peduli dengan kualitas batu itu.


Keterangan: Video ini telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

[Percakapan antara Ko Cho Oo, penjual batu giok dengan pembelinya] Ada urat hitam di sini! Warnanya tidak cukup hijau. Tidak. Saya tidak suka itu.

[Ko Cho Oo] Mereka keras dalam hal tawar-menawar. Mereka selalu memberi Anda tawaran terendah. Ketika saya meminta 100 ribu, mereka menawarkan paling banyak 20 ribu. Dan mereka tidak akan lebih tinggi dari 30 ribu. Mereka tidak pernah kalah. Mereka selalu menang. Begitulah adanya. Kami kalah, mereka menang.

Dengan "mereka," maksudnya adalah orang Cina. Pasar batu giok Mandalay ada di tangan Cina, dari batu mentah hingga perhiasan jadi. Giok telah menjadi bagian penting dari budaya Cina selama ribuan tahun.

Ko Cho Oo adalah seorang perantara. Ia tidak akan mengungkap siapa yang mengirimnya, atau berapa banyak yang ia dapatkan dari kesepakatan. Dia mencoba dengan penjualan kedua, kali ini dengan cincin. Tapi di sini pun, dia berbalik.

Pembeli Cina biasanya beroperasi sebagai perantara juga. Pelanggan sebenarnya berada di negeri asalnya, di Cina. Kelas menengah Cina yang sedang naik daun, haus akan simbol status. Tawarannya datang lewat smartphone. Perdagangan online adalah bisnis yang menguntungkan. 

[Pedagang perantara dari Cina] Kami memiliki tautan langsung ke Cina. Itu bagus, karena orang-orang online tidak tahu banyak soal batu giok, dan tidak bisa menilai kualitas. Kami membawa batu giok bersama kami ketika kami terbang pulang. Tapi pajaknya tinggi, dan itu dikurangi dari laba kami. Jika kami mengenakan kalung atau cincin saat tiba, kami tidak perlu membayar pajak apa pun.

Ko Cho Oo akhirnya berhasil menjual sebuah kalung. Tapi ia memiliki rasa galau terkait bisnis itu.

[Ko Cho Oo] Tentu saja itu menyedihkan. Kami menjual harta kekayaan negara kami, tapi tidak ada cara lain. Mereka sangat kuat, dan kami lemah. Kami perlu uang. Dan orang Cina punya uang.

Di Cina, giok atau jade adalah simbol keberuntungan. Ketika kita menyaksikan perdagangan giok ini, tampak seolah-olah nasib baik meninggalkan Myanmar ke pantai yang lebih makmur.

Kami pergi ke utara ke bukit Kachin. Tempat ini kaya akan tambang batu giok dan sumber daya lainnya, yang sangat dicari oleh tetangga kuat Myanmar. Seluruh desa telah dipindahkan dan kehidupan penduduk setempat terganggu.

Itulah yang terjadi pada Daw Ja. Ia menyeduh minuman tradisional yang diyakini dapat menangkal pilek, keluhan menstruasi, dan impotensi. Tapi itu tidak banyak gunanya melawan situasi Daw Ja saat ini.


[Daw Ja] Tidak ada obat yang bisa mengatasi masalah ini. Jika kami punya obat yang bisa atasi itu, percayalah, saya akan menyeduhnya setiap hari. Dan saya akan memberikannya kepada semua orang, gratis. Tapi tidak sesederhana itu.

Saat ini penduduk setempat tengah melancarkan gerakan protes. Tanda dan poster mereka bertuliskan "No Dam!" (Tidak Ada Bendungan). Cina telah mendukung pembangunan proyek bendungan besar di dekat sumber sungai Irrawaddy. Banyak warga setempat menentangnya.

[Daw Ja] Sungai Irrawaddy adalah alur kehidupan kami.Seolah-olah darah kami sendiri mengalir melaluinya. Sungai ini harus bertahan hidup. Tak seorang pun yang boleh untuk menghancurkannya. Kami berjuang untuk sungai, dan untuk diri kami sendiri.

Perlawanan mereka ditujukan pada struktur beton dan baja sangat besar yang muncul dari air. Ini tahap pertama dari apa yang akan menjadi proyek bendungan besar, 90 persen dari tenaga listrik yang dihasilkan oleh bendungan itu akan diekspor ke negara tetangga Cina. Biaya proyek sangat besar.

Karena menghadapi oposisi yang keras, pemerintah Myanmar akhirnya setuju untuk menunda proyek ini. Hal yang sangat mengecewakan Beijing. 

Seluruh desa Daw Ja dipindahkan untuk memberi jalan bagi bendungan. Mereka kembali untuk melihatnya. Rasa sakit yang dirasakan karena dipaksa meninggalkan rumah masih segar di ingatan mereka. 

[Daw Ja] Di sinilah kami tinggal, dari satu generasi ke generasi berikutnya turun-temurun, dalam damai dan ketenangan. Lalu mereka membuat kami pergi. Mereka masih tidak membiarkan kami kembali, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada proyek itu. Saya khawatir kami tidak akan pernah diizinkan untuk kembali. Orang Cina tidak akan menyerah sampai mereka mendapat bendungan mereka. Suatu hari semua ini akan berada di bawah air, dan lenyap selamanya.

Cina adalah kekuatan ekonomi besar. Negara ini memiliki pengaruh keuangan yang sangat besar - dan uang menimbulkan pengaruh politik. Sulit bagi negara-negara miskin untuk mempertahankan kepentingan mereka. 

Jalur Sutra Baru - Pergerakan Cina ke Barat
Bagian 1 - Dari Cina ke Pakistan
Film karya: Normen Odenthal dan Thomas Reichart

Posting Komentar

0 Komentar