Sri Lanka dan Cina membangun Bandara, Pelabuhan Laut, Jalan Bebas Hambatan "Terkosong" di Dunia

Sekilas, semua tampak damai di resort pantai ini. Dengan angin sepoi-sepoi datang dari Samudra Hindia, hari-hari tampaknya berlalu dengan tempo yang santai.

Di tempat lainnya, Chaminda Pushpa Kumare sedang berjalan melewati perkebunannya. Ia sudah lama menjadi petani melon. Tapi dia juga terpaksa pindah.

[Chaminda Pushpa Kumare] Saya ada di tengah hutan. Ini di mana saya seharusnya mengolah ladang saya. Di tengah lahan yang dulu dianggap antah berantah ini. Saya dulu memiliki sebidang lahan yang bagus, sekarang itu menjadi pelabuhan.

Hidupnya telah menjadi berantakan, bersama dengan banyak lainnya yang dulu tinggal di Hambantota. Sebuah proyek perluasan pelabuhan menelan tanah pertanian mereka. Penduduk desa protes, tetapi tidak ada hasil. Dan janji-janji pemberian kompensasi bagi mereka, tidak ada wujudnya.


Keterangan: Video ini telah memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Jangan lupa aktifkan Subtitle/CC YouTube ke Bahasa Indonesia.

[Chaminda Pushpa Kumare] Mereka tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepada kami. Mereka mengambil tanah kami dan berkata kami akan mendapat pekerjaan di pelabuhan. Tetapi orang Cina tidak punya pekerjaan untuk kami para petani. Mereka hanya memiliki pekerjaan untuk orang-orang mereka sendiri. Mereka memegang kendali di sini sekarang.

Sri Lanka memiliki banyak utang. Ini memberi Cina kendali atas pelabuhan Hambantota dengan masa sewa 99 tahun. Sebagai gantinya, Cina membatalkan utang senilai 1,1 miliar dolar. 

Kesepakatan itu kontroversial, dan penuh dengan rumor. Ada yang mengatakan Beijing berencana membangun pangkalan militer di lokasi yang strategis ini. Kami tidak bisa mengetahui lebih jauh tentang apa yang terjadi di pelabuhan. Pos pengunjung baru-baru ini dinyatakan terlarang bagi orang asing.

[Percakapan antara reporter DW dengan petugas keamanan] Selamat pagi Pak. Dapatkah kami pergi ke spot untuk melihat kegiatan? Maaf, kami lihat di sana ada spot untuk melihat kegiatan. - Tapi tanpa kamera. - Oke.

Pelabuhan itu besar tetapi tidak sesibuk yang diharapkan Cina. Itu sebabnya dikeluarkan perintah baru, yang menciptakan lapangan kerja. Setiap mobil yang diimpor oleh Sri Lanka harus masuk melalui pelabuhan Hambantota. Meskipun lokasi tujuannya berada di sisi lain negara itu.

Satu orang berperan besar di belakang ini: Mahinda Rajapaksa. Selama menjabat sebagai presiden Sri Lanka, ia mempromosikan kesepakatan dengan Cina. Rajapaksa lahir di sebuah kota kecil di distrik Hambantota. Ia menggagas banyak proyek infrastruktur mahal dengan sedikit pertimbangan jangka panjang. 

Sekarang distrik rumahnya memiliki jalan bebas hambatan, namun hampir tidak ada lalu lintas di sana. Dan jalan-jalan yang hanya bisa diimpikan daerah lain di negara itu, tapi kenyataannya lebih banyak ternak daripada kendaraan di atasnya. Ada gedung konferensi yang berdiri tidak digunakan. Dan rumah sakit tanpa dokter atau pasien. Semua dibayar dengan pinjaman dari Cina.


Aruna Kulatunga telah mempelajari situasi ini selama bertahun-tahun. Dia kecewa terhadap apa yang telah dilakukan Sri Lanka.

[Aruna Kulatunga, Pengamat Politik] Misalnya, mereka memberi kami pinjaman katakanlah 100 Rupee. Dan mereka mengambil lagi 90 Rupee dari itu untuk mereka sendiri, ditambah lagi kami harus membayar bunga. Itu seperti saya pergi ke bank, saya mengambil pinjaman dan bank memberi tahu saya: Lihat, saya akan beri Anda 100 Rupee. Tapi Anda harus bangun rumah Anda sesuai dengan ini, ini dan ini. Anda harus membeli semua batu bata dari saya. Anda harus mengambil orang-orang saya dan menggunakannya sebagai tukang batu, dan apa pun. Itu yang terjadi. Dan mereka menarik bunga 12 persen di atas itu juga. Jadi ini bukan bisnis yang adil.

Proyek-proyeknya besar dan bergengsi. Tapi itu tidak lebih dari sekedar pemanis kartu nama. 

Pria ini adalah manajer dari apa yang disebut 'bandara internasional paling kosong di dunia.' Juga dibangun dengan bantuan pinjaman besar dari Cina. Semuanya baru di sini. Ini jarang digunakan. Kami belum pernah melihat bandara seperti ini sebelumnya. Tidak ada antri di loket check-in. Tidak ada kekacauan di pengambilan bagasi. Tidak ada kerumunan orang. Bepergian di bandara ini bisa menjadi pengalaman yang rileks - jika ada penerbangan yang menuju ke sini.

[Chamath Somathilake, Manajer Bandara] Ini telah dibangun untuk kapasitas satu juta penumpang per tahun. Dan itu bisa ditambah dalam beberapa tahun.

[Reporter DW] Tapi kami tidak melihat penumpang?

[Chamath Somathilake] Ya, sampai sekarang kami menggunakan bandara ini jika ada keadaan darurat di ibu kota. Dan di masa depan, akan ada penerbangan terjadwal.

Mereka telah menunggu dengan sabar sejak bandara dibuka pada tahun 2013. Ini adalah drama yang absurd, yang masih menunggu peluang untuk akhir permainan yang menguntungkan Cina. Bandara ini dapat segera mengikuti jejak pelabuhan laut sebelumnya. Utang kepada Cina adalah batu giling di leher Sri Lanka, dan sekarang mereka mencari investor asing untuk mengambil alih.

[Aruna Kulatunga] Mereka tidak memberi apa pun kepada kami, tidak seperti yang mereka katakan bahwa mereka hanya ingin membantu Sri Lanka. Tidak. Mereka jelas bersifat komersial, ditambah minat khusus di sana. Jadi masalahnya, apa yang bisa kami lakukan? Kami memerlukan uang tunai, kami memerlukan investasi, dan tidak ada yang datang.

Sri Lanka telah menjadi simpang jalan bagi pemain ekonomi utama dunia. Dan itu berdampak besar terhadap kehidupan rakyatnya.

Jalur Sutra Baru - Pergerakan Cina ke Barat
Bagian 1 - Dari Cina ke Pakistan
Film karya: Normen Odenthal dan Thomas Reichart

Posting Komentar

0 Komentar