Tensi Tinggi Warga Palestina dan Israel di Makam Nabi Ibrahim

Kota kuno Hebron, dengan populasi lebih dari 200.000 jiwa, adalah kota terbesar di Tepi Barat, dan itu adalah ibukota komersial yang ramai, menguasai hampir sepertiga dari seluruh ekonomi Tepi Barat.

Hanya berjalan-jalan, menghindar dari mobil-mobil yang berseliweran, dan bergaul dengan orang-orang, saya merasakan energi ekonomi yang tampak siap untuk tumbuh. Perdagangan merebak di mana-mana. Menjelajahi jalanan pasar, saya tenggelam dalam kehidupan Palestina. Pengalaman seperti ini adalah alasan kenapa kita perlu bepergian.

Seiring dengan semua aktivitas pasar dan perdagangan, keamanan terlihat sangat ketat dan ada ketegangan yang tinggi. Itu karena kota ini memiliki makam Abraham, sesuatu yang sangat keramat bagi orang Israel dan Palestina.

Di sini, orang-orang Yahudi hidup benar-benar di atas Muslim Palestina, karena kedua komunitas itu berjuang untuk berada di dekat makam Abraham. Sementara kota itu sebagian besar dihuni orang Palestina, sebuah komunitas berkeyakinan kuat yang terdiri dari beberapa ratus pemukim Israel telah tinggal di bagian kota yang tinggi, mereka tinggal di pemukiman di atas pasar.

Ketegangan di antara masyarakat diilustrasikan oleh jaring kawat yang melindungi pasar makanan dan pakaian Arab di bawah dari sampah warga Yahudi di atas. Pasukan Israel ditempatkan di sini untuk mejaga keamanan. Pintu putar dan pos pemeriksaan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.


Tanah tak bertuan dibatasi bangunan tertutup dengan karya seni politik Yahudi yang menghiasinya membagi kedua komunitas. Dan itu semua adalah tentang situs yang sangat sakral dan rumit ini - sebuah bangunan kuno yang ditutup oleh sebuah gereja abad pertengahan yang sekarang berfungsi sebagai masjid, dan sebuah sinagog yang di mana makam-makam Abraham dan keluarganya berada.

Inilah titik fokus untuk kedua agama itu, Makam Abraham.

Sedihnya, akses bagi keturunan Abraham yang berseteru dibagi oleh panel kaca anti peluru. Di satu sisi kaca, orang Yahudi beribadah di sinagoge, tempat paling suci kedua di Yudaisme. Ibadah mereka dimeriahkan dengan menyanyi, belajar, dan berdoa di antara makam para leluhur besar mereka.

Dan separuh lainnya adalah masjid, di mana umat Islam menyembah Tuhannya dengan semangat yang sama. Mimbarnya yang sangat indah, tempat imam berdiri untuk memberikan khotbah, adalah karya orisinal yang langka dari abad ke-12, dengan kayu bertatah dan tanpa paku.


Sayangnya, sejarah tempat suci ini memiliki aura yang tragis.

Selama berabad-abad, orang Yahudi pada umumnya tidak diizinkan untuk beribadah di sini. Kemudian, setelah kemenangan Israel dalam perang 1967, ruang itu digunakan bersama oleh orang Yahudi dan Muslim. Tetapi selama kebaktian Muslim pada tahun 1994, seorang pemukim Israel masuk ke sini dengan senjatanya dan membunuh 29 jemaah Palestina.

Sejak itu, ruang suci ini dibagi, menjadi simbol dari tantangan sulit yang merasuki Tanah Suci.

Sumber: Rick Steves

Posting Komentar

0 Komentar